Sejumlah indikator industri perbankan digital di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan stabil dan perbaikan kinerja pada tahun ini dibandingkan periode sebelumnya. Dilansir dari Finansial pada Senin (27/4/2026), peningkatan tersebut tercermin dari perbaikan efisiensi operasional serta model bisnis berbasis teknologi yang mulai membuahkan hasil.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengamati bahwa pertumbuhan kredit pada sektor ini tetap tinggi. Selain itu, kondisi dana pihak ketiga (DPK) juga dinilai mulai menunjukkan stabilitas yang mendukung keberlanjutan bisnis bank digital.
"Kinerja bank digital tahun ini menunjukkan adanya perbaikan," kata Trioksa.
Meskipun performa meningkat, Trioksa memperingatkan adanya ancaman risiko kualitas kredit akibat ekspansi agresif di masa lalu. Biaya dana yang tinggi untuk menarik simpanan masyarakat juga berpotensi menekan margin serta menimbulkan risiko likuiditas bagi bank yang bergantung pada dana mahal.
Di sisi lain, perbaikan profitabilitas secara nyata ditunjukkan oleh PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA). Direktur Keuangan Superbank Melisa Hendrawati mengumumkan perolehan laba sebelum pajak sebesar Rp143,3 miliar pada tahun 2025 yang didorong oleh penguatan ekosistem dan kepercayaan nasabah.
"Itu menjadi milestone sangat penting dalam perjalanan kami dalam mencatatkan profitabilitas," kata Melisa.
Berdasarkan laporan kinerja, pendapatan bunga bersih Superbank melonjak 160 persen secara tahunan menjadi Rp1,6 triliun. Ekspansi penyaluran kredit juga tumbuh 50 persen mencapai Rp9,6 triliun, sementara dana pihak ketiga naik signifikan 139 persen menjadi Rp11,8 triliun.
Langkah strategis berbeda diambil oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) yang kini beralih fokus pada kualitas pertumbuhan. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli menjelaskan bahwa perusahaan sedang mengoptimalkan basis nasabah yang sudah ada setelah fase akuisisi agresif berakhir.
"Fokus kami saat ini adalah mengonversi basis nasabah yang besar menjadi nasabah aktif yang menggunakan berbagai layanan," kata Ganda.
Ganda menambahkan bahwa integrasi dengan ekosistem CT Corp membantu menekan biaya akuisisi nasabah secara efektif. Hal ini menjadi kunci dalam menjaga kesehatan margin bunga bersih di tengah tren suku bunga yang masih tinggi.
"Jadi, fokus kami adalah membangun profitabilitas yang sehat melalui low-cost acquisition dan peningkatan fee-based income," tutur Ganda.
Strategi pertumbuhan berkualitas Allo Bank diterapkan melalui penyaluran kredit pada segmen dengan risiko terukur seperti pembiayaan rantai pasok. Efisiensi operasional terus ditingkatkan agar tetap kompetitif meskipun biaya dana mengalami kenaikan di pasar perbankan.
"...sehingga margin bunga bersih tetap terjaga di level yang sehat," pungkas Ganda.