Gelandang asal Belgia, Kevin De Bruyne, secara terang-terangan menyampaikan kritik tajam terhadap mantan pelatihnya di Napoli, Antonio Conte. Ia mengaku merasa lega setelah pelatih asal Italia tersebut resmi meninggalkan klub asal Naples itu.
De Bruyne mengungkapkan bahwa masa-masa kerjanya di bawah arahan Conte tidak berjalan dengan menyenangkan. Salah satu alasan utamanya adalah perbedaan visi sepak bola yang sangat mencolok di antara mereka berdua.
Adaptasi yang Terhambat Cedera Serius
Musim perdana Kevin De Bruyne di Napoli sebenarnya dimulai dengan ekspektasi besar setelah ia pindah dari Manchester City secara gratis. Namun, perjalanan kariernya di Italia tersebut justru penuh dengan rintangan sejak awal kepindahannya.
Pada bulan Oktober, De Bruyne mengalami cedera paha yang cukup parah hingga membuatnya harus absen selama berbulan-bulan. Masalah fisik ini memaksa sang pemain menepi dari lapangan hijau dan melewatkan banyak momen penting bersama tim.
Ketidakhadirannya dalam waktu lama membuat proses adaptasi dengan lingkungan baru di Serie A menjadi sangat lambat. De Bruyne baru bisa kembali beraksi pada bulan Maret setelah masa pemulihan yang cukup panjang dan melelahkan.
Rincian performa Kevin De Bruyne selama membela Napoli di bawah asuhan Antonio Conte :
- Menyelesaikan total 21 pertandingan kompetitif di berbagai ajang.
- Berhasil mencetak 5 gol untuk membantu serangan tim.
- Menyumbangkan 4 assist bagi rekan setimnya di lapangan.
- Absen selama kurang lebih lima bulan akibat cedera paha sejak Oktober hingga Maret.
Meskipun mampu mencatatkan statistik yang lumayan, De Bruyne tetap merasa tidak puas dengan peran yang ia mainkan. Ia menegaskan bahwa kendala yang ia hadapi bukan sekadar masalah kesehatan fisik saja.
Ketidakcocokan Taktis dengan Strategi Conte
De Bruyne secara terbuka mengakui bahwa dirinya tidak pernah merasa cocok dengan metode kepelatihan yang diterapkan oleh Antonio Conte. Ia merasa gaya kepemimpinan sang pelatih sangat membatasi kreativitas individunya sebagai pengatur serangan.
Bagi pemain timnas Belgia ini, situasi di ruang ganti sangat sulit karena adanya perbedaan filosofi sepak bola yang fundamental. Conte dianggap memiliki pandangan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dipahami oleh De Bruyne.
Ia mengeluhkan bahwa selama berada di bawah komando Conte, dirinya tidak pernah ditempatkan pada posisi favoritnya. Padahal, ia merasa bisa memberikan kontribusi jauh lebih besar jika dimainkan di posisi yang tepat.
“Sangat jelas bahwa situasi itu sulit bagi saya karena visi sepak bola Conte jauh berbeda dengan milik saya,” ujar De Bruyne. Ia merasa potensinya tidak dimaksimalkan dengan baik oleh sang manajer selama musim tersebut.
Meski merasa tidak nyaman, De Bruyne menegaskan bahwa ia selalu menunjukkan sikap profesionalisme yang tinggi. Ia tetap berupaya memberikan penampilan terbaiknya untuk tim meski harus bermain dalam kondisi yang kurang ideal.
Kritik Terhadap Gaya Main Defensif Napoli
Selain masalah posisi bermain, De Bruyne juga memberikan kritik pedas terhadap pendekatan taktis Napoli di bawah Conte. Ia menilai timnya bermain terlalu berhati-hati dan cenderung terlalu fokus pada pertahanan.
Menurutnya, strategi yang diterapkan Conte membuat permainan tim menjadi sangat pasif di mata penonton maupun pemain. Hal ini berdampak langsung pada produktivitas lini depan Napoli yang terlihat sangat minim selama kompetisi berlangsung.
Berikut adalah rangkuman kritik taktis yang disampaikan De Bruyne mengenai skema permainan tim :
| Aspek Taktis | Penilaian Kevin De Bruyne |
|---|---|
| Formasi Utama | Cenderung menggunakan skema 4-5-1 yang sangat kaku. |
| Orientasi Permainan | Terlalu defensif dan hanya mengincar kemenangan tipis satu gol. |
| Garis Pertahanan | Bermain sangat dalam, terutama pada awal musim kompetisi. |
| Produktivitas Penyerang | Sangat rendah, penyerang tengah utama hanya mampu mengemas 10 gol. |
Data statistik tersebut bagi De Bruyne adalah bukti nyata bahwa strategi Conte membatasi daya serang tim secara keseluruhan. Ia merasa gaya bermain seperti itu tidak sesuai dengan identitas klub yang seharusnya tampil lebih menyerang.
Merasa Lega dengan Kepergian Sang Pelatih
Ketika ditanya mengenai perasaannya saat Conte hengkang, De Bruyne menjawab dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ia mengaku senang dengan keputusan tersebut karena merasa tidak ada lagi beban di pundaknya.
Baginya, kepergian Conte adalah hal yang positif bagi perkembangan kariernya di masa depan bersama Napoli. Ia merasa tidak ada kewajiban bagi sang pelatih untuk tetap bertahan jika visi mereka sudah tidak lagi sejalan.
De Bruyne juga mengungkapkan adanya kekecewaan terkait janji-janji yang diberikan manajemen klub pada bursa transfer musim panas lalu. Ia merasa kesepakatan mengenai cara tim akan bermain tidak pernah terwujud dalam kenyataan di lapangan.
“Sepak bola seharusnya memberikan rasa senang, namun sayangnya aspek kegembiraan itu sempat hilang bagi saya,” keluhnya. Ia merasa hambar saat menjalani rutinitas latihan dan pertandingan karena ketidakcocokan visi tersebut.
Kini, De Bruyne berharap Napoli bisa menemukan gaya bermain yang lebih menghibur dan sesuai dengan kemampuannya sebagai gelandang kreatif. Ia menegaskan tidak ada gunanya terus membahas masalah ini karena hubungan mereka memang tidak harmonis secara profesional.
Pernyataan ini memberikan gambaran yang jelas betapa tegangnya hubungan antara pemain bintang dan pelatih tersebut selama satu musim terakhir. Dengan perginya Conte, De Bruyne siap membuka lembaran baru yang lebih cerah bersama Napoli di musim mendatang.