Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (18/5) akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
Pasar komoditas bereaksi terhadap kegagalan upaya penghentian konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta insiden serangan drone di Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari Internasional, minyak mentah Brent melonjak sebesar US$ 1,44 atau 1,32 persen ke posisi US$ 110,70 per barel pada pukul 23.37 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,84 atau 1,75 persen menjadi US$ 107,26 per barel.
Kedua kontrak minyak tersebut mencatatkan kenaikan lebih dari 7 persen sepanjang pekan lalu karena pudarnya harapan kesepakatan damai untuk menghentikan penyitaan kapal di Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasar diperparah oleh hasil pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berakhir tanpa tanda-tanda meredakan konflik di kawasan penghasil minyak tersebut.
Situasi semakin memanas setelah UEA menyelidiki serangan drone terhadap Barakah Nuclear Power Plant dan menegaskan hak merespons serangan teroris tersebut, sedangkan Arab Saudi mencegat tiga drone dari arah Irak.
Analis pasar IG, Tony Sycamore menilai insiden serangan pesawat tanpa awak ini menjadi alarm yang sangat serius bagi sektor energi dunia.
"Serangan drone ini merupakan peringatan yang jelas bahwa serangan baru dari AS atau Israel terhadap Iran dapat memicu lebih banyak serangan proksi terhadap fasilitas energi dan infrastruktur penting di kawasan Teluk oleh Iran atau kelompok proksinya," ujar Tony Sycamore, Analis Pasar IG.
Sebagai langkah antisipasi, Donald Trump dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan penasihat keamanan nasional senior pada Selasa untuk membahas opsi tindakan militer terkait Iran.