Kesenjangan Lulusan Vokasi dan Kebutuhan Industri Masih Terjadi

Kesenjangan Lulusan Vokasi dan Kebutuhan Industri Masih Terjadi
Foto: Ilustrasi Kesenjangan Lulusan Vokasi dan Kebutuhan Industri Masih Terjadi.

Bisnis.com, JAKARTA ÔÇö Kesenjangan antara lulusan vokasi dan kebutuhan industri masih terjadi, mendorong perusahaan menanggung biaya tambahan untuk pelatihan tenaga kerja baru.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan fenomena mismatch masih terjadi secara luas di pasar kerja Indonesia, di mana sebagian tenaga kerja bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Pada saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia per November 2025 tercatat sebesar 4,74% atau sekitar 7,3 juta orang.

Meski menurun, angka tersebut dinilai belum mencerminkan kualitas penyerapan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Career coach Adityo Indrasanto menilai persoalan utama terletak pada kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.

ÔÇ£Yang pertama saya melihat soal fitness atau kesesuaian keahlian lulusan dari pengajaran yang mereka dapatkan dengan kebutuhan industri,ÔÇØ ujarnya.

Menurutnya, secara konsep pendidikan vokasi sudah tepat karena menitikberatkan pada praktik. Namun, implementasi di lapangan kerap tertinggal dari perkembangan industri yang berlangsung cepat.

Akibatnya, lulusan belum sepenuhnya siap kerja dan masih memerlukan penyesuaian tambahan. Perusahaan pun harus menutup celah tersebut melalui pelatihan internal, yang pada akhirnya menambah beban biaya dan waktu adaptasi.

Di luar kemampuan teknis, kesiapan mental kerja juga menjadi tantangan. Banyak lulusan dinilai belum terbiasa menghadapi tekanan kerja maupun dinamika hubungan profesional di lingkungan perusahaan.

ÔÇ£Kerja bukan hanya soal jobdesk, tetapi juga bagaimana berinteraksi dan menghadapi dinamika dengan orang lain di dalam organisasi,ÔÇØ katanya.

Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar mengingatkan, jika kondisi ini tidak segera dibenahi, industri berpotensi beralih ke tenaga kerja yang lebih siap pakai, termasuk dari luar negeri.

Perusahaan, menurutnya, cenderung memilih tenaga kerja yang dapat langsung berkontribusi dibandingkan harus menunggu proses pelatihan yang memakan waktu.

ÔÇ£Jadi bukan sekadar mismatch, tetapi kita memang tertinggal dari sisi kesiapan sumber daya manusia,ÔÇØ ujarnya.

Dia menambahkan, perubahan struktur ekonomi yang semakin mengarah pada investasi berbasis teknologi turut memperlebar kesenjangan tersebut.

Industri kini membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang lebih tinggi, sementara kesiapan SDM domestik belum sepenuhnya sejalan.

ÔÇ£Jangan industri datang dulu baru kita siapkan SDM. Seharusnya kita sudah siap lebih dulu,ÔÇØ tegasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi