Laga EPA U20 Dewa United vs Bhayangkara FC Ricuh di HUT PSSI

Laga EPA U20 Dewa United vs Bhayangkara FC Ricuh di HUT PSSI
Foto: Ilustrasi Laga EPA U20 Dewa United vs Bhayangkara FC Ricuh di HUT PSSI.

KOMPAS.com - Peristiwa menghebohkan terjadi di momen HUT PSSI ke-96. Laga EPA U20 antara Dewa United U20 vs Bhayangkara FC U20 ricuh diwarnai tendangan kungfu.

Sorotan utama tertuju kepada pemain Bhayangkara FC U20, Fadly Alberto Hengga, sebagai pelaku aksi brutal tendangan kungfu yang mendarat di punggung pemain lawan.

Semakin memprihatinkan bila melihat latar belakang Fadly yang notabene personel Timnas Indonesia U20.

Sontak muncul pertanyaan besar tentang metode kepelatihan di sepak bola usia dini Indonesia, terutama aspek psikologis pemain.

Di sinilah seharusnya peran pelatih memantau serta mendampingi anak asuhnya, sebagaimana disampaikan Jacksen F. Tiago.

Pelatih legendaris yang kini menjabat Direktur Akademi Borneo FC itu turut bersuara menyikapi kasus tendangan kungfu di EPA U20.

Jacksen menyoroti urgensi investasi pada manusia yang di dalamnya terdapat bidang psikologi olahraga sebagai fondasi penting.

Bantuan Tenaga Ahli yang Kompeten

Poin soal psikologi olahraga diyakini bisa membawa sepak bola Indonesia, khususnya usia dini, ke arah yang lebih baik di masa depan.

"Sepak bola dimainkan oleh manusia, sehingga pengembangan aspek psikologis, karakter, serta kemampuan komunikasi harus menjadi prioritas," kata Jacksen dalam keterangan tertulis.

"Saya mengusulkan agar ke depan kita memiliki gerakan lebih terarah dalam bidang psikologis olahraga, melalui kerja sama dengan institusi atau tenaga ahli yang kompeten," jelasnya.

Kericuhan dalam laga Bhayangkara Presisi Lampung FC U20 kontra Dewa United U20 di ajang Elit Pro Academy (EPA) di Stadion Citarum Semarang, Jawa Tengah, Minggu (19/4/2026).

Kemajuan teknologi di era digital, lanjut Jacksen, turut berpengaruh sekaligus menjadi tantangan besar bagi sepak bola Indonesia.

"Tanpa pendampingan yang tepat, kita berisiko kehilangan banyak generasi muda. Bukan karena bakat, melainkan kurangnya arah dan karakter," ujar Jacksen.

Renungan untuk Semua Pihak

Sebagai figur pelatih yang terlibat aktif di pembinaan sepak bola usia dini, Jacksen ingin melihat kasus tendangan kungfu dari sudut pandang berbeda.

Hukuman perlu dijatuhkan kepada pelaku, tapi tidak boleh melenceng dari tujuan utama efek jera. Bukan malah mematikan karier pemain.

"Saya ingin mengajak kita semua untuk merenung dan bekerja sama. Membangun sistem yang mampu menciptakan individu lebih baik dan lebih dewasa," ungkap Jacksen.

"Saya berharap kejadian ini tidak menjadi alasan perpecahan, apalagi pemecatan. Justru sebaliknya menjadi momentum pemersatu dalam visi yang lebih sehat."

"Kejadian ini bukan hanya melibatkan dua tim yang bertanding. Inilah cerminan dari sistem pembinaan secara keseluruhan, artinya tanggung jawab kita bersama," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi