Kenaikan Harga Kedelai Tekan Margin Operasional Perajin Tempe Cilincing

Kenaikan Harga Kedelai Tekan Margin Operasional Perajin Tempe Cilincing
Foto: Ilustrasi Kenaikan Harga Kedelai Tekan Margin Operasional Perajin Tempe Cilincing.

Seorang perajin tempe rumahan di Cilincing, Jakarta Utara, bernama Anto, menghadapi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga kacang kedelai dan bahan kemasan plastik pada Jumat (24/4/2026). Dilansir dari Megapolitan, kondisi ini terjadi saat ketergantungan impor kedelai di Jakarta mencapai angka 95 persen.

Anto yang sudah meneruskan usaha keluarganya sejak lima tahun lalu mencatat harga kedelai naik dari Rp 9.500 menjadi Rp 10.800 per kilogram. Selain kedelai, harga plastik bening untuk kemasan juga menyentuh angka Rp 55.000 per kilogram yang menambah biaya operasional harian.

"Saya kerja di pabrik sudah sekian lama 10 tahun, ya segitu-gitu aja lah," ungkap Anto, Pemilik Pabrik Tempe.

Mantan buruh pabrik ini mengaku tetap memilih usaha mandiri demi kenyamanan dan kebebasan tanpa tekanan atasan. Setiap hari, pabriknya mengolah 100 kilogram kedelai menjadi 40 hingga 60 lonjor tempe dengan omzet mencapai Rp 1,7 juta per hari.

"Satu hari omzetnya itu bisa mencapai Rp 1,7 juta," ujar Anto, Pemilik Pabrik Tempe.

Hasil dari pendapatan kotor sekitar Rp 51 juta per bulan tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga serta upah satu karyawan. Namun, proses produksi sering terhambat oleh faktor cuaca ekstrem yang memengaruhi kualitas fermentasi jamur pada tempe.

"Berpengaruh sekali kalau cuacanya lagi hujan terus tempe itu ya susah untuk peragian, itu tumbuh jamur susah," jelas Anto, Pemilik Pabrik Tempe.

Penggunaan air juga menjadi perhatian khusus dalam proses produksi untuk menjaga kualitas produk akhir yang dihasilkan. Anto memilih sumber air tertentu guna memastikan standar kebersihan dan keberhasilan fermentasi selama tiga hari proses pembuatan.

"Makanya kalau saya bikin tempe itu selalu pakai air PAM. Enggak pakai selain apa pun cuma air PAM," tutur Anto, Pemilik Pabrik Tempe.

Biaya kemasan menjadi beban tambahan yang signifikan karena kebutuhan plastik mencapai satu kilogram setiap harinya untuk membungkus lonjoran tempe. Kenaikan harga material ini secara akumulatif menguras modal kerja yang seharusnya digunakan untuk pengadaan bahan baku utama.

"Satu hari (butuh) satu kilo lah ya plastik itu. Satu kilo harganya sekitar Rp 55.000," ungkap Anto, Pemilik Pabrik Tempe.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa harga kedelai sangat dipengaruhi oleh fluktuasi global dan biaya logistik. Berdasarkan pantauan di 18 pasar tradisional, harga beli kedelai ditemukan bervariasi antara Rp 9.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.

"Walaupun sebagian besar masih sesuai HAP dengan besaran harga rata-rata Rp 10.200 sampai dengan Rp 11.000 per kilogram, untuk ketersediaan kedelai di tingkat perajin secara umum cukup," ungkap Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta.

Pakar Ekonomi M Rizal Taufikurahman menambahkan bahwa produksi kedelai domestik hanya mampu menyuplai sekitar 200 hingga 300 ribu ton dari total kebutuhan nasional 2,7 ton per tahun. Lemahnya nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi global memperburuk struktur biaya produksi UMKM.

"Artinya lebih dari 85 persen dipenuhi impor. Dengan struktur seperti ini, setiap depresiasi rupiah misalnya bergerak di kisaran Rp 17.000 per USD langsung meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri tanpa ada buffer produksi domestik," ungkap M Rizal Taufikurahman, Pakar Ekonomi.

Kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) juga berdampak pada harga plastik berbasis resin yang digunakan oleh para perajin tempe di seluruh wilayah. Rizal mencatat bahwa biaya bahan baku yang mendominasi 70 persen total biaya produksi kini membuat margin usaha para pelaku kecil mendekati titik impas.

"Ini berdampak langsung ke biaya kemasan tempe, yang selama ini sering dianggap komponen kecil tetapi dalam agregat cukup signifikan bagi UMKM," kata M Rizal Taufikurahman, Pakar Ekonomi.

Artikel terkait

Rekomendasi