Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi di sejumlah SPBU memicu lonjakan biaya operasional pemilik mobil diesel secara signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun, harga Dexlite kini menyentuh angka sekitar Rp 26.000 per liter sementara Pertamina Dex berada pada harga Rp 27.900 per liter.
Lonjakan harga ini berimbas langsung pada pengeluaran harian masyarakat, seperti yang dialami oleh May, seorang warga Jakarta pengguna Mitsubishi Pajero Sport. Dilansir dari Detik Oto, biaya untuk pengisian tangki penuh kendaraan tersebut kini mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
"Luar biasa mahalnya, naiknya sampai dua kali lipat. Dulu Rp 500 ribu tuh udah full tank, sekarang full tank harus Rp 1,5 juta," kata May kepada CNNIndonesia.
Meskipun biaya operasional meningkat tajam, pemilik kendaraan mengaku enggan beralih ke jenis bahan bakar subsidi demi menjaga kondisi mesin. Kekhawatiran akan kerusakan komponen teknis menjadi alasan utama para pemilik mobil diesel modern tetap bertahan menggunakan BBM nonsubsidi meski harus menanggung beban biaya yang berat.
"Takutnya mesinnya rusak kalau ke biosolar atau Pertalite, takutnya enggak cocok. Mau ganti mobil apaan? Sayang itu mobilnya mau diapain? Ya udah pasrah aja," kata May.
Selain penyedia milik negara, sejumlah perusahaan SPBU swasta juga terpantau melakukan penyesuaian harga jual bahan bakar diesel mereka. Berikut adalah rincian harga BBM diesel pada beberapa operator swasta di pasar Indonesia.
| Operator SPBU | Jenis BBM Diesel | Harga per Liter |
|---|---|---|
| BP | Ultimate Diesel | Rp 29.890 |
| VIVO | Diesel Primus | Rp 30.890 |
Kenaikan beban biaya ini turut dirasakan oleh Ari, seorang pekerja di kawasan Mega Kuningan yang menggunakan Toyota Innova diesel untuk mobilitas rute Jakarta Selatan-Bintaro. Ia menilai besaran kenaikan harga saat ini sudah mencapai level yang sangat tinggi bagi konsumen pengguna harian.
"Bikin emosi dong. Naiknya enggak kira-kira sekarang naik hampir 100 persen. Tapi enggak mau juga sih pakai solar, kasihan mobilnya," kata Ari.
Untuk menyiasati pembengkakan anggaran transportasi, sebagian pengguna mulai mengubah pola mobilitas dengan memanfaatkan transportasi publik. Pengurangan intensitas penggunaan kendaraan pribadi pada akhir pekan menjadi salah satu langkah yang diambil guna menekan pengeluaran bahan bakar.
"Jadi males pakai mobil yang diesel. Weekend sebisa mungkin enggak pakai mobil tersebut. I choose to ride bus nowadays," kata Ari.