Kementerian Pertanian menginisiasi gerakan penanaman padi serentak di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur pada Jumat (24/4/2026) untuk memitigasi risiko kemarau. Langkah ini diambil guna meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) secara signifikan di awal musim kemarau tahun ini.
Pusat kegiatan percepatan tanam tersebut dipusatkan di Kabupaten Ngawi melalui kolaborasi Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Upaya ini dilansir dari Money merupakan bagian dari strategi menjaga produksi pangan nasional.
Kepala BBPOPT sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) Jawa Timur, Yuris Tiyanto, menekankan pentingnya kerja sama semua pihak dalam mengawal agenda ini.
"Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4% dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya," kata Yuris dalam keterangan resmi Kementerian Pertanian, Jumat (24/4/2026).
Penegasan mengenai perlunya sinkronisasi antara luas lahan dan volume hasil panen juga menjadi fokus utama dalam gerakan kolektif tersebut.
"Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4% dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya," kata Yuris dalam keterangan resmi Kementerian Pertanian, Jumat (24/4/2026).
Yuris menambahkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada dukungan intensifikasi seperti pompanisasi, optimalisasi irigasi, serta pengolahan tanah yang cepat. Selain itu, penggunaan teknologi SIFORTUNA digunakan untuk memantau ancaman hama secara dini.
"Melalui teknologi ini, potensi serangan OPT (organisme pengganggu tumbuhan) dapat diprediksi lebih dini sehingga langkah pengendalian bisa dilakukan secara cepat dan tepat," tutup Yuris.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Denny Kurniawan, menjelaskan bahwa sektor pertanian saat ini sedang berjuang melawan dampak iklim ekstrem. Jawa Timur sendiri tercatat sebagai produsen beras terbesar nasional dalam kurun enam tahun terakhir.
"Tanam serentak harus diikuti panen serentak. Kita menghadapi tantangan besar El Nino," kata Denny.
Ancaman fenomena El Nino Godzilla sebelumnya telah diperingatkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diprediksi berlangsung dari April hingga Oktober. Meski berdampak pada sumber daya air, potensi hujan tinggi dilaporkan masih mungkin terjadi di wilayah Indonesia timur.