Kementerian Agama Kembangkan Kecerdasan Buatan untuk Layanan Publik

Kementerian Agama Kembangkan Kecerdasan Buatan untuk Layanan Publik
Foto: Ilustrasi Kementerian Agama Kembangkan Kecerdasan Buatan untuk Layanan Publik.

Kementerian Agama (Kemenag) mulai mengembangkan pemanfaatan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk mempercepat transformasi digital pada berbagai sektor layanan publik seperti Kantor Urusan Agama (KUA), zakat, dan wakaf. Langkah ini diambil karena adanya tuntutan masyarakat terhadap layanan keagamaan yang semakin cepat, terintegrasi, dan mudah diakses, sebagaimana dilansir dari Cahaya.

Percepatan digitalisasi tata kelola ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI Abdul Rouf dalam diskusi bertema ÔÇ£Innovate in the Era of All IntelligenceÔÇØ di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026). Selain itu, Kemenag juga tengah menyederhanakan serta mengintegrasikan sekitar 2.800 aplikasi yang tersebar di berbagai unit layanan demi meningkatkan efektivitas sistem.

Eksperimen pengembangan AI tersebut dirancang agar masyarakat ke depan dapat mengakses layanan melalui sistem percakapan digital, visual, hingga avatar interaktif. Teknologi ini juga diproyeksikan untuk membantu proses validasi data administrasi pernikahan di KUA serta mendukung sistem penyuratan yang responsif.

ÔÇ£Mungkin 10 tahun yang lalu saya melihat perkembangan teknologi begitu cepat, sementara beberapa layanan Kementerian Agama belum bisa beradaptasi ataupun memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut,ÔÇØ ujar Abdul Rouf.

Pihaknya menjelaskan bahwa adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital dan AI kini menjadi hal yang tidak bisa dihindari oleh lembaga pemerintah agar tidak tertinggal.

ÔÇ£Nah, kita sedang melakukan upaya-upaya untuk melakukan penyederhanaan dan kemudian juga kita ingin melakukan beberapa langkah terkait integrasi,ÔÇØ katanya.

Abdul Rouf kemudian memaparkan rencana implementasi teknologi AI yang akan mempermudah interaksi masyarakat dengan sistem pelayanan keagamaan.

ÔÇ£Nanti masyarakat bisa bertanya dalam bentuk chat, visual, termasuk avatar terkait layanan KUA, zakat wakaf, maupun layanan lainnya,ÔÇØ ungkapnya.

Meski berfokus pada efisiensi, ia menekankan perlunya perhatian khusus pada aspek etika, inklusivitas, keamanan, dan perlindungan data pribadi dalam inovasi tersebut.

ÔÇ£Inovasi AI harus focus tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga etika, inklusivitas, dan kepercayaan,ÔÇØ tutur Abdul Rouf.

Guna mengatasi tantangan pertukaran data antar kementerian dan lembaga, Kemenag juga mendorong penguatan sistem integrasi data nasional dan telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 7 Tahun 2026 mengenai sistem Satu Data Kementerian Agama di bawah koordinasi Pusdatin. Di sektor pendidikan, beberapa madrasah bahkan sudah mengenalkan pelajaran fikih robotik.

ÔÇ£Perkembangan AI tidak bisa kita hindari, tetapi bisa kita antisipasi supaya nilai-nilai etika dan moral tetap dipegang,ÔÇØ ujarnya.

Diskusi yang digelar oleh Huawei Indonesia tersebut turut membahas keamanan siber, transformasi digital, serta pertumbuhan industri data center nasional. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian program CSR bertajuk ÔÇ£Sharing Happiness, Qurban for IndonesiaÔÇØ melalui penyaluran hewan kurban ke sejumlah masjid di berbagai kota di Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi