Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat integrasi sistem data nasional guna mewujudkan pelayanan keagamaan yang lebih efisien dan terhubung. Langkah transformasi digital ini dipaparkan dalam diskusi teknologi di Jakarta pada Kamis (21/5/2026), sebagaimana dilansir dari Cahaya.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Sekretariat Jenderal Kemenag RI, Abdul Rouf, menjelaskan bahwa adaptasi teknologi cerdas sangat krusial bagi tata kelola ribuan satuan kerja di internal kementerian.
"Kementerian Agama itu satker-nya sangat banyak, lebih dari 4.000 satuan kerja. Karena itu digitalisasi tata kelola menjadi sangat penting," ujar Abdul Rouf.
Penyederhanaan sistem saat ini menjadi fokus utama karena terdapat sekitar 2.800 aplikasi yang sebelumnya berkembang secara terpisah di berbagai unit layanan Kemenag.
"Nah, kita sedang melakukan upaya-upaya untuk melakukan penyederhanaan dan kemudian juga kita ingin melakukan beberapa langkah terkait integrasi," kata Abdul Rouf.
Menurutnya, koordinasi antarinstansi selama ini masih sering terhambat prosedur administrasi, padahal masyarakat membutuhkan sistem yang saling terhubung dari lahir hingga meninggal.
"Harus ada sebuah integrasi antara kementerian yang mengurus kebutuhan masyarakat dari lahir sampai meninggal," ungkap Abdul Rouf.
Guna memperkuat kebijakan Satu Data Kemenag, institusi ini telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 7 Tahun 2026 yang menempatkan pengelolaan data di bawah koordinasi Pusdatin. Selain itu, teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai dikembangkan untuk interaksi layanan publik.
"Nanti masyarakat bisa bertanya dalam bentuk chat, visual, termasuk avatar terkait layanan KUA, zakat wakaf, maupun layanan lainnya," ujar Abdul Rouf.
Langkah implementasi teknologi modern ini juga harus tetap mengutamakan aspek perlindungan privasi dan keamanan data guna menjaga kepercayaan publik.
"Inovasi AI harus fokus tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga etika, inklusivitas, dan kepercayaan," tutur Abdul Rouf.
Penerapan transformasi digital ini juga mulai menyasar sektor pendidikan keagamaan melalui pengenalan pembelajaran fikih robotik di sejumlah madrasah.