Kebijakan Emisi AS Picu Kerugian Perdana Honda Sejak 1955

Kebijakan Emisi AS Picu Kerugian Perdana Honda Sejak 1955
Foto: Ilustrasi Kebijakan Emisi AS Picu Kerugian Perdana Honda Sejak 1955.

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melonggarkan aturan emisi karbon kendaraan memicu kerugian finansial bagi produsen otomotif asal Jepang, Honda, untuk tahun fiskal 2025.

Kondisi yang dilansir dari Detik Finance pada Sabtu (16/5/2026) tersebut menjadi momen pertama kalinya bagi Honda mencatatkan kerugian dalam 70 tahun terakhir sejak tahun 1955.

Perubahan regulasi ini membalikkan arah investasi besar-besaran yang sebelumnya dilakukan para produsen mobil di AS untuk mengembangkan kendaraan listrik alias electric vehicle (EV) saat masa pemerintahan Joe Biden.

Kala itu, pemerintahan Biden mengetatkan aturan emisi dan memberikan kredit pajak pembelian EV hingga US$ 7.500 atau sekitar Rp 131.970.000 dengan kurs Rp 17.596 per dolar AS.

Namun, administrasi Trump membatalkan aturan emisi ketat tersebut dan menghapus sanksi finansial bagi pelanggar kebijakan, sehingga Honda dan produsen lain kembali berfokus pada penjualan truk dan SUV besar bertenaga bensin.

Pergeseran fokus ini memukul nilai investasi ramah lingkungan yang telah dikeluarkan, hingga Honda melaporkan penurunan nilai laba sebesar 1,6 triliun yen atau mendekati US$ 10 miliar.

Setelah diakumulasikan dengan potensi keuntungan tahunan sebesar US$ 7,4 giga dolar, raksasa otomotif Jepang ini menderita kerugian bersih mencapai 403,3 miliar yen atau setara US$ 2,6 miliar.

"Honda juga mengindikasikan bahwa mereka memperkirakan ada penurunan nilai tambahan pada investasi kendaraan listrik sebelumnya di tahun fiskal berjalan, meskipun tidak cukup untuk menyebabkan kerugian lagi," jelas laporan tersebut.

Dampak pembalikan kebijakan ini tidak hanya memukul produsen luar negeri, melainkan juga menghantam sejumlah perusahaan otomotif terkemuka asal Negeri Paman Sam.

General Motors mencatatkan kerugian US$ 7,2 miliar akibat pengurangan pengembangan EV, sementara Ford mengumumkan kerugian US$ 17,4 miliar, dan Stellantis selaku produsen merek Jeep serta Chrysler merugi 25,4 miliar euro.

Meskipun General Motors masih mampu mempertahankan laba bersih, perubahan kebijakan di bawah pemerintahan Trump ini telah memaksa Ford dan Stellantis menelan kerugian bersih sepanjang periode 2025.

"Namun, para produsen mobil belum sepenuhnya meninggalkan rencana kendaraan listrik. Masih ada peraturan emisi yang lebih ketat yang akan diberlakukan di Eropa dan Asia, dan mungkin di sejumlah negara bagian AS," terang laporan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi