Kenneth Iwamasa, asisten pribadi mendiang aktor Matthew Perry, resmi dijatuhi hukuman penjara selama 41 bulan oleh pengadilan federal Amerika Serikat pada Rabu (27/5). Vonis ini diberikan karena keterlibatan Iwamasa dalam memasok serta menyuntikkan ketamin dosis tinggi yang menyebabkan kematian Perry akibat overdosis pada Oktober 2023.
Hakim Distrik AS Sherilyn Peace Garnett tidak hanya memberikan hukuman kurungan, tetapi juga mewajibkan Iwamasa membayar denda sebesar US$10.000 atau sekitar Rp178 juta. Iwamasa merupakan sosok terakhir yang divonis dalam rangkaian kasus hukum yang menyeret lima orang terdakwa tersebut.
Peran Sang Asisten dalam Tragedi Kematian Matthew Perry
Iwamasa sebelumnya telah mengaku bersalah atas dakwaan konspirasi distribusi ketamin yang mengakibatkan kematian dan cedera serius pada Agustus 2024. Meskipun tidak memiliki keahlian medis, ia nekat melakukan suntikan berulang kali kepada bintang serial "Friends" tersebut.
Pihak kejaksaan menyoroti bahwa Iwamasa sebenarnya sangat memahami riwayat kecanduan narkoba yang diderita bosnya. Namun, bukannya mendukung proses pemulihan, ia justru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan akses terhadap obat-obatan keras tersebut.
Berdasarkan dokumen pengadilan, berikut adalah rincian peran dan konspirasi yang dilakukan oleh Iwamasa:
- Bekerja sama dengan dokter Salvador Plasencia untuk membeli puluhan botol ketamin dan alat suntik senilai US$57.000.
- Belajar cara melakukan injeksi obat secara mandiri melalui arahan dari sang dokter.
- Mengabaikan reaksi berbahaya pada tubuh Perry, seperti kondisi kaku, dan terus melanjutkan pemberian obat.
- Mencari pasokan baru dari bandar narkoba melalui perantara saat stok dari dokter mulai menipis.
- Menyuntikkan sedikitnya tiga dosis ketamin pada hari kematian sang aktor di kediamannya.
Tindakan Iwamasa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap tanggung jawab profesionalnya. Sebagai asisten dengan gaji ratusan ribu dolar per tahun, ia seharusnya memastikan Perry mengonsumsi obat sesuai resep legal, bukan memasok zat ilegal.
Upaya Menghilangkan Barang Bukti
Setelah menemukan Perry tidak bernyawa, Iwamasa memang menghubungi layanan darurat 911 untuk meminta bantuan. Namun, dalam proses interogasi awal, ia sengaja merahasiakan fakta bahwa ia baru saja memberikan suntikan ketamin kepada bosnya.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa Iwamasa sempat menghapus berbagai bukti penggunaan obat di rumah Perry menjelang kematian sang aktor. Ia bahkan melaporkan aksi pembersihan bukti tersebut kepada rekan konspiratornya lewat sambungan telepon.
Berikut adalah ringkasan vonis bagi para pihak yang terlibat dalam kasus distribusi ketamin Matthew Perry:
| Nama Terdakwa | Peran dalam Kasus | Lama Hukuman Penjara |
|---|---|---|
| Jasveen Sangha | Bandar Narkoba ("Ketamine Queen") | 15 Tahun |
| Kenneth Iwamasa | Asisten Pribadi (Eksekutor Suntikan) | 41 Bulan (3,4 Tahun) |
| Salvador Plasencia | Dokter Pemasok Utama | 2,5 Tahun |
| Erik Fleming | Konselor/Perantara Distribusi | 2 Tahun |
Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh pihak yang terlibat telah menerima sanksi hukum sesuai dengan tingkat kontribusinya dalam kasus ini. Salvador Plasencia sendiri diketahui telah secara sukarela menyerahkan izin praktiknya sebagai dokter pada September 2025.
Kasus ini menjadi peringatan keras mengenai bahaya penyalahgunaan obat keras dan pentingnya pengawasan medis yang ketat. Kematian Matthew Perry mengungkap jaringan gelap yang mengeksploitasi kerentanan seseorang yang sedang berjuang melawan kecanduan.