Kebijakan baru CEO Meta Mark Zuckerberg untuk melacak aktivitas komputer karyawan demi pengembangan kecerdasan buatan (AI) memicu protes keras di internal perusahaan pada pekan ini, dilansir dari Detik iNET yang mengutip laporan Wired dan Futurism.
Langkah yang dinamakan Model Capability Initiative (MCI) tersebut merekam ketukan papan tik, pergerakan tetikus, serta tangkapan layar saat pegawai menggunakan aplikasi tertentu untuk melatih model agen AI.
Keresahan para pekerja mencuat melalui unggahan di forum internal perusahaan yang kemudian mendapat perhatian luas dari sesama rekan kerja.
"Saya tidak ingin layar saya direkam karena terasa seperti pelanggaran terhadap privasi saya," tulis seorang engineer Meta.
Pegawai tersebut menilai bahwa kebijakan pelacakan aktivitas ini berpotensi mengeksploitasi data manusia demi kepentingan komputasi.
"Namun jika dilihat dari kacamata yang lebih luas, saya tidak ingin hidup di dunia di mana manusia, baik karyawan maupun bukan, dieksploitasi demi data pelatihan AI mereka," tambahnya.
Gelombang penolakan ini juga diwujudkan melalui sirkulasi petisi internal sejak pekan lalu dan penempelan selebaran di area publik perusahaan seperti kafetaria.
Kondisi ini memperkeruh suasana kerja di Meta yang saat ini sedang menghadapi kebijakan pemangkasan sepuluh persen tenaga kerja atau sekitar 8.000 karyawan.
Di tengah tuntutan produktivitas berbasis AI yang menjadi tolok ukur evaluasi kinerja, karyawan mengeluhkan tekanan psikologis di lingkungan kantor.
"PHK, pemangkasan anggaran, serta tahun-tahun yang dipenuhi efisiensi dan intensitas kerja tinggi, semuanya berkontribusi pada tumbuhnya rasa takut yang mencekam," tulis seorang pegawai.