Karex Bakal Naikkan Harga Kondom Akibat Gangguan Pasokan Global

Karex Bakal Naikkan Harga Kondom Akibat Gangguan Pasokan Global
Foto: Ilustrasi Karex Bakal Naikkan Harga Kondom Akibat Gangguan Pasokan Global.

Karex sebagai produsen kondom terbesar di dunia berencana menaikkan harga jual produknya sebesar 20 hingga 30 persen akibat gangguan rantai pasok global yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah pada Selasa (22/4/2026).

Kenaikan harga ini dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 yang menghambat distribusi bahan baku penting. Dilansir dari Money, perusahaan asal Malaysia tersebut terpaksa mengambil kebijakan ini seiring dengan melonjaknya biaya operasional.

CEO Karex, Goh Miah Kiat, memberikan penegasan mengenai kondisi finansial perusahaan yang saat ini berada di bawah tekanan besar. Penyesuaian harga tersebut sangat bergantung pada durasi gangguan pasokan yang sedang berlangsung di pasar internasional.

"Situasinya jelas sangat rapuh, harga-harga mahal. Kami tidak punya pilihan selain meneruskan biaya tersebut kepada pelanggan saat ini," ujar Goh Miah Kiat, CEO Karex.

Pimpinan perusahaan yang memproduksi lebih dari 5 miliar kondom per tahun ini juga menyoroti kendala logistik yang menyebabkan penumpukan barang. Hambatan pengiriman ini terjadi di tengah tingginya permintaan pasar global terhadap produk kesehatan tersebut.

"Kami melihat banyak kondom tertahan di kapal dan belum tiba di tujuan, padahal sangat dibutuhkan," kata Goh Miah Kiat, CEO Karex.

Krisis ini turut berdampak pada ketersediaan bahan baku petrokimia yang krusial bagi industri manufaktur. Kelangkaan feedstock seperti nafta, silikon oil, dan amonia mulai dirasakan oleh para produsen di wilayah Asia.

Angie Gildea selaku Kepala global sektor minyak dan gas KPMG menyatakan bahwa fokus publik saat ini terlalu terpaku pada bahan bakar mentah. Padahal, bahan turunan minyak untuk industri plastik dan material lainnya juga mengalami defisit serius.

"Banyak yang membahas minyak mentah dan dampaknya terhadap diesel dan bensin, tetapi feedstock dan petrokimia juga mengalami kekurangan," ujar Angie Gildea, Kepala global sektor minyak dan gas KPMG.

Dampak konflik ini meluas hingga menyebabkan pembatasan bahan bakar di Myanmar dan Kamboja, serta memicu kebijakan belajar dari rumah di Vietnam. Para analis memperingatkan bahwa kendala transportasi bagi pekerja pabrik berisiko memperlambat total produksi barang ekspor di Asia Tenggara.

Artikel terkait

Rekomendasi