Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di Indonesia resmi menyentuh angka 1,3 gigawatt (GW) pada Selasa, 28 April 2026. Capaian ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PT PLN (Persero), serta Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) sebagai fondasi transisi energi nasional.
Pertumbuhan kapasitas PLTS atap nasional tercatat meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dilansir dari Money, jumlah kapasitas yang sebelumnya hanya sebesar 146 megawatt pada 2024 kini melonjak drastis menjadi 1,3 GW pada tahun 2026.
Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menyatakan bahwa lonjakan ini menandakan pergeseran fungsi energi surya bagi Indonesia. Saat ini, AESI menaungi sekitar 135 anggota yang mencakup manufaktur, pengembang proyek, hingga lembaga keuangan dalam ekosistem energi surya.
"Capaian ini menunjukkan bahwa energi surya bukan lagi potensi, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis nasional. Dengan dukungan ekosistem industri yang semakin matang, AESI siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mempercepat implementasi PLTS dan mewujudkan target transisi energi Indonesia," ujar Mada Ayu Habsari, Ketua Umum AESI.
Kementerian ESDM kini membidik target pengembangan yang lebih ambisius, yakni pada kisaran 80 GW hingga 100 GW. Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan roda industri energi domestik melalui penciptaan permintaan pasar yang stabil.
"Target ambisius ini diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas energi, tetapi juga pada penciptaan permintaan (demand creation) yang dapat menggerakkan industri energi surya di dalam negeri," kata Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.
Eniya menambahkan bahwa pengembangan sektor ini diproyeksikan memberikan dampak positif bagi ketersediaan lapangan kerja baru di Indonesia. Pemanfaatan fotovoltaik rencananya akan diperluas ke koperasi desa hingga fasilitas kesehatan.
"Target ini bukan sekadar angka, tetapi peluang ekonomi. Kami menghitung setidaknya ada 760.000 pekerjaan baru yang bisa tercipta dari program PLTS ini," ujar Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.
Pihak PT PLN (Persero) turut mendukung pencapaian ini dengan menyediakan infrastruktur perizinan yang lebih mudah bagi masyarakat. Fokus utamanya adalah memperluas penggunaan energi bersih di berbagai sektor melalui integrasi teknologi digital.
"Capaian 1,3 GW ini menjadi langkah penting dalam mendorong pemanfaatan energi surya di Indonesia. PLN terus berkomitmen untuk mendukung arah kebijakan nasional, termasuk menjadikan PLTS sebagai bagian utama dalam transisi menuju energi yang lebih bersih," kata Adi Priyanto, Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero).
Melalui aplikasi PLN Mobile, pelanggan kini dapat mengajukan perizinan PLTS atap secara transparan. Hal ini merupakan implementasi dari regulasi terbaru guna mempercepat penggunaan PLTS atap yang terhubung dengan jaringan listrik.
"Upaya ini menjadi bagian dari komitmen PLN dalam menjalankan amanat Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024 sekaligus mendorong percepatan pemanfaatan PLTS Atap On-Grid di Indonesia," ujar Adi Priyanto, Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero).
Sebelum peluncuran ini, AESI telah menggelar National Solar Transition Forum 2026 pada 21 dan 22 April lalu. Forum tersebut mendiskusikan kebijakan dan investasi dengan mempelajari praktik pengembangan energi surya dari negara lain seperti India, Pakistan, dan Thailand.