PT Kereta Api Indonesia (Persero) menerapkan uji coba penggunaan bahan bakar biodiesel B50 secara bertahap pada sejumlah lokomotif untuk mempercepat implementasi energi baru terbarukan, seperti dilansir dari Money pada Senin (18/5/2026).
Langkah strategis ini dilakukan menjelang pemberlakuan mandatori biodiesel B50 secara nasional oleh pemerintah yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026 mendatang.
Pengujian teknis ini melibatkan kolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta LEMIGAS yang sudah berjalan sejak pertengahan April 2026 melalui pemantauan performa mesin kereta.
ÔÇ£Kebijakan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperbesar pemanfaatan energi berbasis nabati pada berbagai sektor transportasi nasional,ÔÇØ kata Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI dalam keterangan resmi, Senin (18/5/2026).
Perusahaan terus melakukan mitigasi mendalam agar operasional angkutan massal ini tetap berjalan tanpa hambatan teknis selama masa transisi ke bahan bakar baru.
ÔÇ£Sebagai operator transportasi publik berbasis rel, KAI terus memperkuat kesiapan implementasi B50 melalui serangkaian pengujian teknis pada sarana perkeretaapian berbasis diesel,ÔÇØ lanjut Anne Purba.
Manajemen KAI menegaskan bahwa peralihan ini tidak akan mengurangi standar performa angkutan penumpang maupun barang.
ÔÇ£KAI mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan,ÔÇØ ujar Anne Purba.
Sebelum melangkah ke tahap ini, operator perkeretaapian nasional tersebut sudah lebih dulu sukses melewati fase penggunaan B35 dan B40 di seluruh lini operasi ekosistemnya.
ÔÇ£Pada setiap tahapan implementasinya, aspek keselamatan, keandalan sarana, dan kualitas layanan tetap menjadi perhatian utama,ÔÇØ tambah Anne Purba.
Berdasarkan catatan performa lingkungan, penggunaan biodiesel B40 pada Kereta Api Jarak Jauh sepanjang tahun 2025 memicu emisi karbon sebesar 127,3 juta kg CO2e dari total volume 47,4 juta penumpang.
Sedangkan pada periode Januari hingga April 2026, KAI mengangkut sebanyak 19,2 juta pelanggan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.
Secara umum, moda transportasi rel terbukti efisien karena hanya melepaskan 15 hingga 40 gram CO2 per penumpang-kilometer dibandingkan kendaraan pribadi yang mencapai 120 hingga 250 gram CO2.
ÔÇ£Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan kereta api membantu menjaga emisi sektor transportasi tetap lebih terkendali seiring tingginya mobilitas masyarakat,ÔÇØ jelas Anne Purba.
Proses pengujian lokomotif saat ini difokuskan di Dipo Sidotopo untuk memantau karakteristik pembakaran, sedangkan uji kereta pembangkit ditempatkan di Depo Kereta Yogyakarta dengan interval berkala per 300 jam operasi.
ÔÇ£Hingga saat ini, seluruh hasil pengujian masih dalam proses evaluasi dan pemantauan bersama pemerintah serta tim teknis terkait,ÔÇØ jelas Anne Purba.
Evaluasi menyeluruh terus berjalan demi memastikan ketahanan jangka panjang seluruh unit armada diesel saat beroperasi intensif di lapangan.
ÔÇ£Percepatan implementasi B50 memerlukan kesiapan yang terukur agar tetap selaras dengan standar keselamatan dan kualitas layanan transportasi publik. KAI terus memperkuat koordinasi dan pengujian teknis agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,ÔÇØ tegas Anne Purba.