JLM Auto Indonesia mulai menggarap segmen komersial untuk memperluas pasar motor gede Harley-Davidson di Indonesia melalui strategi penjualan fleet. Langkah ekspansi bisnis ini menyasar perusahaan swasta dan lembaga pemerintah guna melengkapi fokus penjualan konsumen individu pada Senin (20/4/2026).
Strategi baru ini didukung penuh oleh infrastruktur internal grup perusahaan di bawah naungan Inchcape Indonesia. Dilansir dari Otomotif, saat ini kontribusi penjualan ke sektor komersial tersebut masih berada di kisaran 5 hingga 10 persen dari total volume penjualan perusahaan.
Operations Director JLM Auto Indonesia, Irvino Edwardly menjelaskan bahwa pembentukan departemen khusus fleet dalam ekosistem Inchcape menjadi motor penggerak utama. Keberadaan unit ini memungkinkan penanganan pesanan dalam jumlah besar secara lebih profesional.
"Jadi kebetulan kita secara company Inchcape itu kita sudah mempunyai fleet department. Jadi tentunya ini dengan Harley merupakan bagian daripada Inchcape Indonesia," ujar Irvino Edwardly, Operations Director JLM Auto Indonesia.
Tim internal tersebut memiliki fokus spesifik untuk memasarkan unit motor dalam skala besar kepada berbagai entitas organisasi. Penjualan diarahkan tidak hanya untuk kebutuhan operasional namun juga kepentingan citra korporasi.
"Mereka yang berkonsentrasi untuk menjual fleet tadi, baik itu kepada perusahaan ataupun kepada government institution," kata Irvino Edwardly, Operations Director JLM Auto Indonesia.
Berdasarkan catatan perusahaan, instansi pemerintah telah menjadi pelanggan utama dalam beberapa tahun terakhir. Harley-Davidson tercatat sering digunakan oleh berbagai lembaga negara untuk kebutuhan pengawalan maupun operasional khusus lainnya.
"Kalau yang sudah pernah kita lakukan saat ini memang government. Seperti tahun lalu kita pernah memberikan juga untuk kepada government," ucap Irvino Edwardly, Operations Director JLM Auto Indonesia.
Meski dominasi pasar fleet masih dipegang oleh sektor pemerintah, JLM Auto Indonesia berencana melakukan diversifikasi ke pasar non-pemerintah. Sektor penyewaan kendaraan atau rental dan perusahaan swasta lainnya diproyeksikan menjadi pendorong pertumbuhan ke depan.
"Ke depannya kita mau coba kembangkan lagi bukan hanya non-government tapi kepada rental, perusahaan-perusahaan dan lain sebagainya. Komposisinya sekarang masih sangat kecil, mungkin 5-10 persen," ujar Irvino Edwardly, Operations Director JLM Auto Indonesia.
Perusahaan menghadapi tantangan eksternal yang cukup berat, mulai dari perubahan regulasi otomotif hingga ketidakpastian geopolitik global. Kondisi nilai tukar mata uang asing yang fluktuatif juga menjadi faktor yang sangat diperhatikan dalam menentukan kebijakan harga.
"(Pasar secara keseluruhan) kami sih tetap positif ya, walaupun kita melihat ini pasti tetap merupakan tahun yang challenging. Terutama kalau kita melihat sekarang dengan regulasi, kondisi global yang terjadi peperangan, minyak dunia, forex yang juga tidak favourable," kata Irvino Edwardly, Operations Director JLM Auto Indonesia.
Pihak manajemen memilih untuk menerapkan pendekatan yang hati-hati namun tetap menargetkan performa penjualan yang stabil. Perusahaan menargetkan angka penjualan setidaknya setara atau melampaui raihan pada tahun sebelumnya.
"Tentunya kita coba untuk bisa tidak terlalu agresif tapi tetap optimis. Kita mau pencapaian minimum sama atau lebih dari tahun lalu," ucap Irvino Edwardly, Operations Director JLM Auto Indonesia.