Jepang Impor 1 Juta Barrel Minyak Meksiko Demi Diversifikasi Energi

Jepang Impor 1 Juta Barrel Minyak Meksiko Demi Diversifikasi Energi
Foto: Ilustrasi Jepang Impor 1 Juta Barrel Minyak Meksiko Demi Diversifikasi Energi.

Pemerintah Jepang mulai mengimpor 1 juta barrel minyak mentah dari Meksiko sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan energi pada kawasan Timur Tengah. Kebijakan ini diambil di tengah ketidakpastian pasokan energi global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di jalur utama Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut merupakan hasil negosiasi antara perusahaan minyak negara Meksiko, Pemex, dengan pihak Jepang. Pengiriman perdana minyak mentah ini dijadwalkan akan dilakukan mulai Juli 2026, sebagaimana dilansir dari Money melalui laporan Reuters pada Jumat (24/4/2026).

Data dari NHK dan Nikkei menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 90 persen kebutuhan minyak mentah Jepang dipasok dari Timur Tengah. Ketergantungan yang tinggi ini membuat stabilitas ekonomi domestik Jepang sangat rentan terhadap setiap gejolak geopolitik yang terjadi di wilayah tersebut.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini telah dikukuhkan melalui pembicaraan langsung dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Saat ini Meksiko mampu mengekspor sekitar 400.000 hingga 500.000 barrel minyak per hari setelah memenuhi kebutuhan domestik.

"Itu adalah kesepakatan yang diminta oleh Jepang melalui Pemex," kata Sheinbaum, menurut warta Reuters.

Pernyataan tersebut disampaikan Sheinbaum untuk menekankan bahwa ekspor tersebut akan dilakukan dalam periode tertentu. Selain sektor energi, kedua pemimpin negara juga sepakat untuk meningkatkan investasi serta memperkuat iklim perdagangan bagi perusahaan Jepang yang beroperasi di wilayah Meksiko.

Bagi Tokyo, impor minyak ini berfungsi sebagai instrumen pelengkap di samping penggunaan cadangan minyak strategis nasional. Kyodo News melaporkan bahwa Jepang saat ini memiliki total cadangan minyak yang setara dengan 230 hari konsumsi domestik untuk menjaga keamanan energi.

Namun, transisi pasokan ini menghadapi tantangan teknis karena mayoritas kilang di Asia dirancang untuk mengolah minyak jenis medium-sour dari Timur Tengah. Peralihan ke minyak mentah dari Meksiko atau Amerika Serikat menuntut adanya penyesuaian logistik dan teknis operasional pada fasilitas kilang di Jepang.

Artikel terkait

Rekomendasi