Baterai menjadi komponen paling vital saat seseorang berencana membeli kendaraan listrik. Dilansir dari Suara, komponen ini bukan sekadar penentu jarak tempuh, melainkan juga variabel utama dalam biaya jangka panjang.
Nilai baterai sendiri bisa mencapai 40 hingga 50 persen dari total harga jual unit mobil listrik. Oleh karena itu, memahami karakteristik dan ketahanan jenis baterai sangat penting bagi calon konsumen.
Saat ini, industri otomotif global maupun di Indonesia secara umum mengadopsi dua jenis teknologi baterai utama, yakni Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Nickel Manganese Cobalt (NMC).
Baterai LFP sering diaplikasikan pada kendaraan listrik kelas entry-level. Keunggulan utamanya terletak pada ketahanan terhadap panas yang tinggi, sehingga dinilai sangat cocok dengan iklim tropis Indonesia.
Selain memiliki stabilitas keamanan yang baik, LFP dikenal memiliki siklus hidup atau cycle life yang lebih panjang. Contoh kendaraan yang menggunakan jenis ini adalah Wuling Air EV dengan kapasitas 26,7 kWh.
Di sisi lain, baterai NMC umumnya digunakan untuk mobil listrik kelas menengah ke atas hingga segmen premium. Teknologi ini menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan LFP.
Kepadatan energi tersebut membuat mobil mampu menempuh jarak lebih jauh dan menghasilkan performa yang lebih bertenaga. Namun, baterai NMC lebih sensitif terhadap perubahan suhu ekstrem dan memiliki usia pakai sedikit di bawah LFP.
Beberapa model populer yang menggunakan baterai NMC antara lain Hyundai IONIQ 5 serta MG4 EV.
Estimasi Biaya Penggantian Baterai di Indonesia
Harga baterai sangat bervariasi tergantung pada kapasitas (kWh) dan teknologi yang digunakan oleh masing-masing pabrikan. Berikut adalah gambaran estimasi harga baterai dari beberapa merek populer:
| Merek Mobil | Kapasitas Baterai | Estimasi Harga |
|---|---|---|
| Wuling (Air EV/Binguo) | 17 ÔÇô 37 kWh | Sekitar Rp100 jutaan |
| BYD (Atto 3/Dolphin) | ┬▒60 kWh | Rp150 ÔÇô 200 juta |
| MG Motor (MG4 EV) | ┬▒50 kWh | Sekitar Rp200 jutaan |
| Hyundai (IONIQ 5/6) | 58 ÔÇô 72,6 kWh | Rp300 ÔÇô 400 juta |
| Toyota (bZ4X) | ┬▒71 kWh | Sekitar Rp500 jutaan |
Mahalnya harga baterai ini dipengaruhi oleh beberapa faktor teknis. Mulai dari sistem manajemen baterai, rantai pasok bahan baku seperti nikel dan kobalt, hingga teknologi sel lithium-ion yang digunakan.
Tips Menjaga Ketahanan Baterai
Agar baterai mobil listrik dapat bertahan hingga 8 sampai 10 tahun atau bahkan lebih, terdapat beberapa langkah perawatan yang bisa dilakukan pengguna. Salah satunya adalah menghindari pengisian daya hingga 100 persen secara terus-menerus.
Pengguna disarankan cukup mengisi daya hingga level 80 atau 90 persen saja. Selain itu, pastikan kondisi baterai tidak sampai kosong total dan batasi penggunaan fitur fast charging jika tidak mendesak.
Faktor eksternal seperti suhu juga berpengaruh besar. Memarkirkan kendaraan di tempat yang teduh dapat membantu menjaga kesehatan sel baterai dari paparan panas yang berlebihan.
Pemilihan jenis baterai pada akhirnya kembali pada kebutuhan pengguna. LFP lebih unggul untuk ketahanan jangka panjang dan efisiensi biaya, sementara NMC menjadi opsi tepat bagi yang memerlukan performa tinggi dan jarak tempuh ekstra.