Kawasan di sekitar Stasiun Depok Baru dan Stasiun Depok Lama, Jawa Barat, kini dipadati deretan sepeda motor yang terparkir rapat hingga ke gang-gang sempit. Pemandangan ini menjadi ciri khas kawasan transit yang melayani kebutuhan ribuan warga setiap harinya.
Dilansir dari Megapolitan, spanduk bertuliskan jasa penitipan motor 24 jam tampak mencolok dengan tawaran tarif mulai dari Rp 5.000 per hari. Setidaknya terdapat tujuh titik penitipan yang berdiri berdampingan di sepanjang ruko dan lorong bawah jalan layang.
Tingginya permintaan parkir ini didorong oleh mobilitas pekerja komuter yang menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk menuju Jakarta. Salah satu pemilik jasa penitipan di Jalan Arif Rahman Hakim, Bambang (40), menyebut mayoritas pelanggannya adalah pekerja.
"Pekerja. Kadang yang enggak pulang, kadang yang pulang kampung," kata Bambang.
Pelanggan yang menitipkan kendaraan dalam durasi lama biasanya mencapai waktu satu bulan. Hal ini membuat sistem pembayaran menjadi lebih fleksibel menyesuaikan kondisi ekonomi penyewa jasa.
"Kalau sebulan pembayarannya itu enggak jelas lagi. Kehabisan ongkos, kehabisan duit. Enggak sesuai tarif yang kita bikin," kata Bambang.
Tarif standar yang diberlakukan di lokasi tersebut adalah Rp 5.000 untuk penitipan harian dan Rp 15.000 bagi kendaraan yang menginap. Dalam kondisi ramai, pendapatan bersih usaha ini bisa mencapai Rp 8 juta per bulan setelah dipotong biaya operasional.
"Enggak tentu ya, tapi sebulan ada lah kalau rame bisa 8 juta, itu sudah bersih di luar biaya karyawan dan sewa," kata dia.
Uniknya, sistem pengamanan di banyak titik penitipan motor ini masih mengandalkan ingatan pengelola tanpa penggunaan karcis resmi atau CCTV. Bambang menjelaskan bahwa ia sempat menggunakan nomor gantung, namun sering hilang di perjalanan.
"Banyak yang jatuh di kereta, nanti kan salah orang yang ngambil. Mendingan kita menghafal orangnya," ujar Bambang.
Para penjaga parkir biasanya sudah mengenali wajah pelanggan tetap serta kendaraan yang mereka bawa setiap harinya. Pengenalan ini bahkan mencakup kebiasaan waktu datang dan pulang para pekerja tersebut.
"Pelanggan tetap semua. Kalau Senin sampai Jumat itu pelanggan kita. Dia turun kereta 100 meter aja kita tahu. Motornya yang mana," kata dia.
Meskipun risiko tertukarnya helm tetap ada, Bambang mengaku selama 15 tahun merintis usaha, belum pernah terjadi kehilangan unit motor. Ia tetap waspada jika ada orang asing yang tiba-tiba mengambil kendaraan tanpa konfirmasi pemilik.
"Kecuali dia enggak naruh yang ngambil adiknya. Saya minta kejut, kok kamu yang ngambil, kamu siapa yang suruh," kata dia.
Persaingan dan Alternatif Parkir Resmi
Penjaga parkir lain, Sabii (39), mengungkapkan bahwa persaingan kini semakin ketat seiring bertambahnya jumlah titik penitipan motor. Bahkan, fasilitas parkir resmi di dalam area stasiun juga telah membangun gedung bertingkat beberapa lantai.
"Stasiun aja udah buka banyak. Yang lantai dua, lantai tiga, lantai empat," ujarnya.
Alvin (20), seorang penjaga parkir bertingkat, menyebut tempatnya sanggup menampung hingga 300 motor per hari. Meskipun tersedia CCTV, mereka tetap diwajibkan menghafal kendaraan pelanggan karena risiko ganti rugi dibebankan kepada pekerja.
"Ditanggung. Biasanya potong gaji," ujarnya.
Ujang (45), pemilik penitipan di kawasan Stasiun Depok Lama, menambahkan bahwa warga lebih memilih parkir di luar karena fasilitas resmi sering penuh. Faktor antrean panjang saat masuk dan keluar parkir resmi juga menjadi alasan warga beralih ke jasa informal.
"Kalau parkir resmi suka penuh. Terus kadang antre," kata Ujang.
Aktivitas ekonomi ini turut memberikan dampak positif bagi pedagang kecil di sekitarnya, seperti warung kopi milik Sofyan (47). Banyak komuter yang menyempatkan diri membeli minuman sebelum naik kereta, sehingga ekosistem ekonomi lokal terus bergerak.
Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai kehadiran parkir informal ini sangat mendukung penggunaan angkutan umum massal KRL. Namun, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab pengamanan sepenuhnya berada di tangan pengelola jasa, bukan pemerintah.
"Adanya parkir informal di stasiun-stasiun komuter sangat mendukung penggunaan angkutan umum massal KRL," kata Deddy.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menyebut fenomena ini sebagai respons cepat ekonomi informal. Meskipun omzetnya mencapai jutaan rupiah, kontribusi sektor ini sering kali tidak tercatat dalam kebijakan resmi pemerintah.