Jasa Cat Duco Pinggir Jalan Jakarta Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Jasa Cat Duco Pinggir Jalan Jakarta Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Foto: Ilustrasi Jasa Cat Duco Pinggir Jalan Jakarta Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi.

Layanan cat duco informal di sepanjang jalan protokol Jakarta Pusat hingga Jakarta Timur tetap bertahan sebagai solusi perbaikan bodi kendaraan yang cepat dan terjangkau bagi masyarakat, sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Kamis (14/5/2026).

Eksistensi penyedia jasa ini tumbuh subur akibat tingginya permintaan pemilik kendaraan yang tidak terikat asuransi serta tekanan beban ekonomi di wilayah perkotaan. Fenomena ini terlihat jelas di kawasan Salemba, Matraman, hingga Kramat Raya.

Pengamat otomotif Bebin Djuana menjelaskan bahwa kehadiran layanan perbaikan bodi di trotoar ini bukan merupakan tren baru di ibu kota. Menurutnya, konsumen memilih jasa ini karena membutuhkan penanganan instan tanpa prosedur rumit.

"Cat dan duco di pinggir jalan sudah lama berlangsung, bukan tren baru," ujar Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Ia menambahkan bahwa pengerjaan di pinggir jalan seringkali menjadi pelarian bagi pengendara yang ingin menyembunyikan kerusakan kecil pada kendaraan dalam waktu singkat.

"Karena ada saja konsumen yang membutuhkan layanan perbaikan bodi kendaraan secara instan, jauh lebih cepat dari bengkel body repair," kata Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Meskipun cepat, Bebin memberikan peringatan mengenai aspek ketahanan hasil kerja yang dipengaruhi oleh keterbatasan peralatan dan bahan yang digunakan oleh para pekerja informal tersebut.

"Tentu biayanya juga standar pinggir jalan, dengan konsekuensi kualitas pekerjaan ala kadarnya dan tidak tahan lama," ujar Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Bebin mengidentifikasi bahwa pelanggan setia jasa ini biasanya berasal dari kalangan yang ingin menekan pengeluaran serendah mungkin atau para pengemudi yang menghindari teguran atasan.

"Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan mereka yg tidak melindungi kendaraan dengan asuransi atau sopir yang takut kena damprat bos akibat srempetan di jalan," kata Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Faktor perlindungan finansial kendaraan menjadi pembeda utama dalam pemilihan lokasi perbaikan bodi mobil maupun motor di Jakarta.

"Jasa ini buat mereka yg tidak cover asuransi," lanjut Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Terkait kualitas, Bebin mencatat bahwa keterbatasan modal sering kali menjadi penghalang bagi para pekerja untuk menghasilkan pengecatan yang optimal meski mereka memiliki keahlian teknis.

"Butuh biaya besar untuk menyediakan ruang oven dan peralatan profesional, sementara mereka bekerja di ruang terbuka," tambah Bebin.

Ia menyoroti bagaimana daya tawar konsumen yang rendah sering kali memaksa penggunaan material dengan kualitas di bawah standar demi menyesuaikan harga.

"Tapi seringkali juga karena desakan konsumen yang menekan biaya hingga memaksa memakai material berkualitas rendah. Ada harga ada barang," kata Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Dari sudut pandang ekonomi, menjamurnya sektor ini berkaitan erat dengan ketersediaan lapangan kerja formal yang terbatas di Jakarta. Data BPS Februari 2026 mencatat pekerja informal di Jakarta mencapai 1,98 juta orang.

"Bisnis cat duco pinggir jalan tumbuh karena ada kombinasi permintaan pasar dan tekanan biaya," ujar M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Rizal berpendapat bahwa masyarakat kelas menengah bawah saat ini lebih mementingkan aspek fungsionalitas dan efisiensi biaya daripada kesempurnaan layanan bengkel resmi.

"Usaha seperti cat duco pinggir jalan tumbuh karena ada permintaan, tetapi juga karena masyarakat mencari sumber pendapatan alternatif," kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Kondisi daya beli yang sedang lesu membuat konsumen mengalihkan pilihannya pada jasa yang dianggap cukup rapi namun tidak menguras kantong.

"Dalam kondisi daya beli tertekan, banyak konsumen lebih memilih ÔÇÿcukup rapi dan murahÔÇÖ daripada layanan sempurna tetapi mahal," ujar M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Namun, Rizal menekankan adanya kerentanan sosial bagi para pekerja ini karena ketiadaan jaminan kesehatan dan perlindungan kerja yang terstandarisasi.

"Produktivitas mereka ada, tetapi belum ditopang ekosistem usaha yang aman dan berkelanjutan," kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Di lapangan, konsumen seperti Ferdi (38) mengaku lebih memilih jasa ini karena alasan efisiensi waktu pengerjaan yang hanya memakan waktu beberapa jam.

"Kalau di bengkel resmi bisa berhari-hari. Di sini paling sore sudah jadi," ujar Ferdi, Warga Jakarta Timur.

Bagi pemilik kendaraan, selisih harga yang signifikan menjadi pertimbangan utama untuk kerusakan-kerusakan bersifat minor.

"Kalau cuma lecet sedikit sayang kalau masuk bengkel besar. Yang penting rapi dan cepat," kata Ferdi, Warga Jakarta Timur.

Para pekerja seperti Luhur (32) mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya tidak selalu melakukan pengecatan di trotoar, melainkan membawa kendaraan ke bengkel kecil setelah kesepakatan tercapai.

"Awalnya ikut teman. Dulu cuma bantu amplas sama dempul. Lama-lama belajar nyemprot cat, terus sekarang ikut cari pelanggan juga di jalan," ujar Luhur, Pekerja Cat Duco.

Model bisnis ini sangat bergantung pada keberhasilan mereka menjaring pelanggan yang melintas di jalan raya setiap harinya.

"Kita di jalan cuma cari customer. Kalau sudah deal, mobil dibawa ke bengkel. Ngecatnya tetap di bengkel, bukan di sini," kata Luhur, Pekerja Cat Duco.

Ketidakpastian penghasilan menjadi risiko harian yang harus dihadapi oleh para pencari pelanggan di pinggir jalan ini.

"Kadang sehari bisa dapat dua sampai tiga mobil. Kadang seminggu kosong juga ada," ujar Luhur, Pekerja Cat Duco.

Maman (50), yang telah bergelut di bidang ini sejak 1996, menyebutkan bahwa kemandirian menjadi karakteristik utama dari pekerjaan informal ini.

"Kalau karyawan kan kerja atau enggak tetap digaji. Kalau kita harus cari sendiri dulu baru ada uang," kata Maman, Pekerja Cat Duco.

Minimnya akses ke pekerjaan formal membuat banyak warga akhirnya memilih sektor ini sebagai tumpuan hidup terakhir.

"Sekarang orang susah cari kerja. Akhirnya ikut beginian. Tinggal kenal bengkel, bisa mulai," ucap Asep, Pekerja Cat Duco.

Selain ketidakpastian ekonomi, ancaman kesehatan akibat paparan zat kimia secara terus-menerus tanpa alat pelindung diri yang memadai juga menghantui para pekerja.

"Kalau habis nyemprot atau di bengkel lama, kepala suka pusing. Napas juga kadang sesak," ujar Asep, Pekerja Cat Duco.

Sosiolog Rakhmat Hidayat menilai fenomena ini sebagai bentuk strategi bertahan hidup masyarakat urban yang tidak terserap oleh sektor industri formal.

"Kota besar seperti Jakarta menjadi ruang bertemunya arus migrasi, kebutuhan ekonomi, dan keterbatasan lapangan kerja formal," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Ia melihat adanya penggunaan ruang marginal kota secara ilegal namun masif sebagai dampak dari kebutuhan ekonomi yang mendesak.

"Jasa cat duco pinggir jalan adalah fenomena berkembangnya ekonomi informal perkotaan yang fleksibel, murah, dan cepat diakses," katanya Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Kelompok pekerja ini disebut sebagai bagian dari kelompok rentan yang perannya nyata namun seringkali terabaikan secara administratif.

"Mereka penting bagi ekonomi kota, tetapi keberadaannya sering tidak diakui secara penuh oleh sistem formal," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Rakhmat menyarankan pemerintah untuk melakukan pendekatan yang lebih humanis daripada sekadar mengedepankan aspek penertiban aturan jalan.

"Kebijakan yang efektif adalah kebijakan yang mengakui keberadaan sektor informal sebagai bagian nyata dari ekonomi kota, bukan semata-mata masalah ketertiban," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Secara regulasi, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menegaskan bahwa penggunaan trotoar untuk aktivitas usaha melanggar Perda Nomor 8 Tahun 2007.

"Pasal 24-26 Perda 8/2007, dilarang melakukan kegiatan usaha di bagian jalan atau trotoar, selain tempat-tempat yang sudah ditunjuk atau ditetapkan gubernur," ujar Yogi Ikhsan, Juru Bicara DLH DKI Jakarta.

Lantaran dianggap melanggar aturan ketertiban umum, penindakan di lapangan menjadi tanggung jawab satuan polisi pamong praja.

"Kegiatan cat duco pinggir jalan pada umumnya tidak sesuai dengan ketentuan di atas, dan seharusnya dilakukan penindakan oleh instansi terkait ketertiban umum," kata Yogi Ikhsan, Juru Bicara DLH DKI Jakarta.

Kasatpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean mengakui adanya kendala dalam menertibkan para pekerja tersebut yang sering kali kembali beroperasi setelah dirazia.

"Sering dilakukan penertiban sama Satpol PP Kecamatan Senen. Tapi seperti kucing-kucingan," ujar Purnama Hasudungan Panggabean, Kasatpol PP Jakarta Pusat.

Pihaknya mendorong adanya solusi kolaboratif untuk merelokasi para pekerja ke tempat yang lebih layak tanpa mengganggu fungsi fasilitas umum.

"Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka, warga sekitar, untuk bisa mencari nafkah dengan menampung di suatu tempat sehingga mereka bisa mencari nafkah," kata Purnama Hasudungan Panggabean, Kasatpol PP Jakarta Pusat.

Saat ini, petugas tetap diinstruksikan untuk terus melakukan patroli rutin guna menjaga ketertiban di titik-titik rawan keramaian jasa cat duco tersebut.

"Tetapi anggota Satpol tetap melaksanakan patroli di lokasi tersebut," lanjut Purnama Hasudungan Panggabean, Kasatpol PP Jakarta Pusat.

Artikel terkait

Rekomendasi