Fenomena layanan jasa antar berbasis media sosial kini mulai merambah tingkat lokal di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dilansir dari Megapolitan, layanan bernama Pasmingskuy ini diinisiasi oleh dua anak muda, Rizky (25) dan Safna (23), dengan menawarkan tarif mulai dari Rp 5.000.
Kehadiran Pasmingskuy bertujuan mengisi celah bagi pelanggan yang kesulitan mendapatkan pengemudi aplikasi ojek online (ojol). Layanan ini fokus membantu warga yang ingin membeli jajanan warung pinggir jalan atau mengirim barang dalam jarak dekat.
Nama Pasmingskuy dipilih sebagai identitas wilayah operasional di Pasar Minggu yang dipadukan dengan istilah kekinian khas generasi muda. Safna menjelaskan bahwa konsep ini dirancang agar terasa lebih akrab bagi target pasar mereka, yakni kalangan mahasiswa dan Gen Z.
"Jadi ada permintaan apa, kita langsung, oke Skuy, berangkat. Karena kan ini juga dibangun sama kayak kita kan anak muda, jadi bahasanya agak lebih, cakupannya tuh lebih ke Gen Z," jelas Safna saat ditemui di Pasar Minggu, Senin (27/4/2026).
Ide bisnis ini berawal dari kegelisahan pribadi Safna saat memposisikan diri sebagai pelanggan. Ia sering merasa sulit mendapatkan driver ojek online saat memesan sesuatu di area-area tertentu yang padat.
"Kalau dari saya pribadi ya saya kalau memposisikan diri saya sebagai customer, saya merasa kalau order sesuatu dari ojek online, makin ke sini makin sulit untuk dapat driver-nya gitu," kata dia.
Awalnya, Rizky dan Safna hanya beroperasi berdua menggunakan satu sepeda motor untuk melayani area Pasar Minggu. Namun, antusiasme masyarakat di media sosial melampaui ekspektasi mereka sejak hari pertama beroperasi.
"Itu juga bahkan first order-nya juga kebetulan kita lagi makan di Pasming. Terus ada pesan masuk dia bilang mau jajanan di sekitar Unas (Universitas Nasional). Yaudah kita langsung berangkat," katanya.
Keduanya mengaku sangat terkejut dengan respon cepat dari para pelanggan. "Enggak terlalu nyangka, kita tuh bener-bener enggak nyangka banget. Pokoknya sampai sekarang juga kita masih enggak nyangka. Bahkan tiap notif tuh kita kayak ketawa terus karena ini seriusan," ungkap Safna.
Tarif flat Rp 5.000 menjadi daya tarik utama bagi pelanggan di beberapa titik. Wilayah jangkauan harga tersebut meliputi Jatipadang, Siaga, Pejaten, Pejaten Barat, Pejaten Timur, Pasar Minggu, hingga Poltangan.
Rizky menyebutkan bahwa penetapan harga tersebut selalu melalui evaluasi setiap malam untuk memastikan keberlanjutan operasional. Jika pesanan berada di luar wilayah yang ditentukan, pelanggan akan dikenakan biaya tambahan sesuai jarak.
"Jadi itu tiap malamnya kita tuh evaluasi masuk akal enggak harganya Rp 5.000 sampai akhirnya kita udah tentukan Rp 5.000 tuh wilayahnya apa saja gitu di luar itu ada fee tambahan. Ada ongkir tambahan," kata Rizki.
Karena belum memiliki sistem aplikasi resmi, Pasmingskuy menerapkan skema pembayaran di awal guna mengantisipasi risiko pesanan fiktif. Pelanggan wajib mentransfer estimasi harga barang terlebih dahulu sebelum pesanan diproses.
"Kalau kita sistemnya menerima payment di awal terus pakai estimasi harga barangnya atau pesanannya," katanya.
Volume pesanan kini telah meningkat dari hanya dua pesanan per hari menjadi belasan hingga 20 pesanan. Rizky mengungkapkan bahwa mayoritas pelanggan mereka berasal dari kalangan mahasiswa yang memesan makanan atau jasa laundry.
"Laundry juga ada, makanan tapi paling sering makanan sih, jajanan yang di pinggir-pinggir jalan gitu," kata dia.
Ke depan, Rizky dan Safna berencana mengembangkan layanan ini menjadi aplikasi resmi dan memperluas jangkauan ke jasa titip luar negeri. "Rencana ke depannya mungkin kami berdua ingin buat aplikasi," katanya.
Selain di Jakarta, layanan serupa juga dijalankan oleh Faras (27) di wilayah Bogor melalui sistem manual WhatsApp. Faras melayani berbagai permintaan logistik mulai dari dokumen hingga belanja bulanan di area yang sulit dijangkau aplikasi besar.
"Awalnya iseng aja, apalagi di Bogor masih banyak area yang driver aplikasi susah dijangkau," kata dia.
Faras menerapkan tarif bertahap mulai dari Rp 5.000 untuk jarak 1-3 km hingga Rp 8.000 untuk jarak 3-6 km. Ia mengaku sering menghadapi tantangan berupa pelanggan yang menawar harga terlalu rendah.
"Sering banget. Ada yang minta jauh tapi maunya murah. Biasanya saya jelasin saja hitungannya. Kalau masih maksa, ya saya tolak daripada rugi di saya," katanya.
Pengalaman menggunakan jasa antar mandiri dirasakan oleh Nabila (22), seorang mahasiswi di Jakarta Selatan. Ia memilih layanan ini saat kondisi mendesak karena cuaca hujan dan kesulitan mendapatkan driver aplikasi konvensional.
"Habis hujan kalau enggak salah. Aku lagi males banget keluar, Kebetulan lagi pengen banget makan tapi semua aplikasi lagi lama banget dapat driver-nya," ujar dia.
Nabila menilai layanan personal seperti ini lebih fleksibel karena komunikasi berlangsung secara langsung tanpa sistem yang kaku. Bahkan, ia pernah dilayani saat melakukan pemesanan mendekati waktu tengah malam.
"Pernah aku coba tengah malam hampir dan masih dibalas walaupun akhirnya tergantung mereka lagi available atau enggak," katanya.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, berpendapat bahwa fenomena ini menunjukkan kekuatan relasi sosial dalam aktivitas ekonomi digital. Kepercayaan personal menjadi nilai lebih yang ditawarkan layanan mandiri.
"Jadi ada aspek non-ekonomi yang itu berkaitan dengan ekonomi itu, yaitu soal relasi sosial itu," kata dia.
Menurut Rakhmat, fleksibilitas dalam negosiasi dan jenis layanan membuat model bisnis ini akan terus bertahan berdampingan dengan platform digital besar. Faktor kepercayaan dan interaksi manusia menjadi kunci utama keberlangsungan model jastip lokal tersebut.
"Menurut saya fleksibilitas adalah keunggulan utama, berbeda dengan sistem aplikasi, yang cenderung rigid," katanya.