Negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah tengah berupaya membangun rute distribusi alternatif menyusul penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz sejak dua bulan terakhir. Langkah darurat ini diambil untuk mengatasi kebuntuan lalu lintas komersial yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran pada April 2026.
Blokade pada selat yang menyumbang 20 persen pasokan minyak dunia tersebut telah memicu lonjakan harga energi secara global. Sebagaimana dilansir dari Money melalui laporan CNBC pada Jumat (24/4/2026), krisis ini memperlihatkan kerentanan pasar energi internasional saat jalur strategis mengalami gangguan serius.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menekankan bahwa ketergantungan pada satu jalur distribusi sempit merupakan risiko besar bagi kestabilan ekonomi dunia.
"Ekonomi global senilai 110 triliun dollar AS bisa disandera oleh beberapa ratus orang bersenjata di selat sepanjang 50 kilometer. Ini tidak masuk akal. Kita membutuhkan rute alternatif," ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
Penasihat senior Atlantic Council untuk program Timur Tengah, Maisoon Kafafy, memberikan pandangannya mengenai perubahan drastis persepsi risiko keamanan di kawasan tersebut pasca-penutupan jalur utama.
"Ekonomi global senilai 110 triliun dollar AS bisa disandera oleh beberapa ratus orang bersenjata di selat sepanjang 50 kilometer. Ini tidak masuk akal. Kita membutuhkan rute alternatif," ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
Pernyataan Fatih Birol tersebut menyoroti urgensi diversifikasi rute bagi negara-negara seperti Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang sangat bergantung pada Selat Hormuz. Sementara itu, pandangan mengenai runtuhnya asumsi keamanan lama disampaikan oleh pakar lain.
"Risiko di Selat Hormuz sebenarnya telah lama dipahami. Namun, menurut penasihat senior Atlantic Council untuk program Timur Tengah, Maisoon Kafafy, penutupan pada Februari 2026 membuktikan bahwa asumsi lama bisa runtuh," kata Maisoon Kafafy, Penasihat Senior Atlantic Council.
Data IEA menunjukkan kapasitas jalur pipa alternatif saat ini, seperti pipa East-West Arab Saudi dan pipa ADCOP Uni Emirat Arab, hanya berkisar antara 3,5 hingga 5,5 juta barel per hari. Angka tersebut masih jauh di bawah volume kebutuhan normal sebesar 20 juta barel per hari yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Upaya diversifikasi semakin mendesak setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap infrastruktur energi negara-negara Teluk. Meskipun Irak berencana mengaktifkan kembali pipa menuju Turki berkapasitas 250.000 barel per hari, ketersediaan solusi cepat untuk menggantikan peran vital Selat Hormuz hingga saat ini masih sangat terbatas.