Kelompok suporter Jakmania menyatakan kekecewaannya setelah pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung pada Minggu (10/5/2026) batal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda. Perubahan lokasi mendadak ini berdampak pada persiapan pendukung yang telah menyewa transportasi rombongan, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Ketua Korwil Jakmania Pulogadung, Nonet, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai persiapan matang jauh-jauh hari sebelum keputusan pemindahan lokasi tersebut keluar. Persiapan tersebut meliputi koordinasi internal anggota hingga urusan teknis keberangkatan ke stadion di Jakarta.
"Kecewa ya. Karena semua udah dipersiapkan, udah diperhitungkan, dipersiapkan semuanya lah segala sesuatunya. Tapi hasilnya nggak sesuai dengan yang kita rencanakan," kata Nonet.
Pihak koordinator wilayah telah mengorganisir pertemuan rutin dan pembagian tiket bagi para anggota. Selain itu, pembatalan ini menyebabkan kerugian materiil karena uang muka penyewaan bus yang sudah dibayarkan tidak dapat dikembalikan.
"Contohnya pertama nih kita udah persiapkan lewat kopdar, sosialisasi ke anggota, terus cara pendistribusian tiket, dan kita udah nyewa bus loh," ujar Nonet.
Nonet menambahkan bahwa pembatalan sewa transportasi tersebut menjadi beban bagi kas organisasi. Meski demikian, ia berupaya mengalihkan antusiasme anggota melalui kegiatan nonton bersama untuk menjaga moral pendukung di tingkat basis.
"Akhirnya di-cancel, dan ternyata ya mau nggak mau duit cancel-annya ilang, eh duit DP-nya ilang, Bang. Ya kerugian besarlah buat kita," ungkap Nonet.
Sebagai langkah hiburan bagi para anggota, Jakmania Pulogadung merencanakan acara nonton bareng dengan suasana yang lebih meriah. Rencana ini diharapkan dapat mengobati rasa kecewa karena tidak bisa mengawal tim secara langsung di kandang sendiri.
"Untuk menghilangkan kekecewaan itu, ane coba ngumpulin anggota lagi lewat nobar. Dan nobar ini kita mau buat musikan lah, walaupun musikannya dari DJ aja," kata Nonet.
Selain masalah teknis, ia juga mengkritisi hambatan perizinan keamanan yang kerap muncul saat laga besar. Nonet memandang bahwa pertandingan sepak bola seharusnya bisa dinikmati sebagai hiburan masyarakat tanpa adanya kekhawatiran yang berlebihan.
"Sepak bola itu bukan anarkis, sepak bola itu hiburan. Kenapa harus ditakutin?" kata Nonet.
Kekecewaan serupa juga disampaikan oleh Faisal, pengurus The Jakmania Korwil Pulogadung lainnya. Ia menilai pemindahan venue ke Kalimantan merupakan kerugian bagi Persija yang seharusnya bertindak sebagai tuan rumah pada putaran kedua ini.
"Jujur sih, gue kecewa banget. Gue sebagai Jakmania pasti berharap bisa main di GBK," kata Faisal.
Faisal menegaskan bahwa perasaan tidak puas ini menyelimuti seluruh elemen pendukung Macan Kemayoran. Pasalnya, tim telah memenuhi kewajiban bertandang ke markas lawan pada putaran pertama kompetisi musim ini.
"Seluruh Jakmanialah pasti semua ngerasa kecewa banget atas kepindahannya pertandingan ini jadi di Samarinda," ucap Faisal.
Pihak pengurus suporter juga menyayangkan alasan pemindahan yang dinilai tidak konsisten sejak awal. Faisal menyebut sempat ada simpang siur mengenai pihak mana yang menjadi kendala utama dalam perizinan penggunaan Stadion Gelora Bung Karno.
"Awalnya sih melalui PSSI, di mana dari pihak PSSI itu sendiri tidak mengizinkan Persija untuk main di GBK. Tapi masalah itu udah selesai tuh. Nah, selang beberapa hari atau beberapa jam, alasan kepindahan itu ganti lagi jadi permasalahan di pihak keamanan," jelas Faisal.