Praktisi kesehatan kini mulai memperkenalkan perubahan istilah Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) untuk meningkatkan kesadaran pasien terhadap masalah sistemik. Penegasan mengenai dampak positif perubahan nama ini disampaikan oleh pakar kesehatan reproduksi pada Kamis, 14 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Perubahan nomenklatur ini bertujuan agar pasien memahami bahwa fokus pengobatan tidak hanya terbatas pada organ ovarium. Penekanan baru diberikan pada perbaikan sistem endokrin serta keseimbangan metabolisme tubuh secara menyeluruh guna mencapai efektivitas terapi yang lebih baik bagi perempuan di Indonesia.
Pakar kesehatan reproduksi, dr Muhammad Fadli, SpOG, memberikan penjelasan mendalam mengenai pergeseran paradigma pengobatan yang menyertai perubahan nama tersebut.
"Sebenarnya tidak berdampak terlalu banyak bagi pasien. Bahkan ini jauh lebih baik agar pasien lebih aware bahwa metabolismenya dan sistem endokrinnya harus diperbaiki. Jadi, target pengobatannya bukan cuma ovarium, tapi keseimbangan hormon secara keseluruhan," jelas dr Fadli, SpOG.
Langkah ini juga diambil untuk meluruskan persepsi masyarakat awam yang sering kali salah mengartikan istilah kista dalam kondisi ini. Penggunaan nama baru diharapkan dapat mengurangi beban mental pasien yang merasa khawatir akan tindakan operasi.
"Orang awam bilang polycystic, harusnya ada kista banyak dong? Padahal itu bukan kista. Itu adalah folikel-folikel kecil yang tidak bisa berkembang karena gangguan hormon," tambah dr Fadli, SpOG.
Berdasarkan data medis, kondisi ini memengaruhi sekitar satu dari delapan wanita di Indonesia, di mana banyak kasus kegagalan program kehamilan terjadi akibat pengabaian masalah metabolisme. Fokus pengobatan kini diarahkan pada kontrol kadar gula darah, penanganan berat badan berlebih, dan kesehatan kelenjar secara utuh.
Dokter menekankan pentingnya gaya hidup sehat sebagai fondasi utama dalam menangani PMOS, terutama mengingat tingginya angka prevalensi diabetes di tengah masyarakat.
"Penyebab utamanya adalah metabolisme yang terganggu. Jadi, langkah pertama bukan langsung obat kimia berat, tapi perbaikan pola hidup. Ini kunci agar pasien bisa hamil di kemudian hari," tegas dr Fadli, SpOG.
Penanganan terhadap kelenjar endokrin dianggap krusial karena fungsinya yang mengatur sekresi hormon agar ovarium dapat bekerja optimal kembali.
"Namanya berubah agar kita lebih aware. Kita mengobati kelenjarnya, bukan cuma ovariumnya. Jika metabolismenya diperbaiki, maka kelenjar akan mengeluarkan hormon yang seharusnya, dan ovarium akan kembali berfungsi normal," tutup dr Fadli, SpOG.