Keberangkatan Tim Nasional Iran untuk berlaga di Piala Dunia 2026 kini menghadapi syarat diplomatik yang ketat. Seperti dilansir dari Suara, Tehran meminta Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada memenuhi daftar tuntutan keamanan serta administratif sebelum mereka berkompetisi.
Langkah diplomasi olahraga ini ditempuh oleh Federasi Sepak Bola Iran sebagai bentuk respons atas gejolak politik dan ketegangan bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel sejak awal tahun 2024. Iran menegaskan bahwa hak mereka untuk tampil didasarkan pada prestasi kualifikasi murni.
Federasi Iran memberikan penekanan bahwa identitas nasional dan prinsip ideologi negara tidak akan dikompromikan hanya demi sebuah turnamen. Jika serangkaian syarat ini tidak dipenuhi, kepastian kehadiran tim raksasa Asia tersebut di kancah dunia bakal menjadi persoalan rumit bagi FIFA.
Mehdi Taj, Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), menyebutkan setidaknya ada sepuluh poin persyaratan khusus yang harus disepakati oleh panitia penyelenggara. Salah satu fokus utamanya adalah prosedur pemberian visa bagi seluruh anggota delegasi tanpa hambatan politik.
Tehran secara spesifik menyoroti kebutuhan visa bagi para pemain dan staf yang memiliki latar belakang wajib militer di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Selain urusan dokumen, aspek penghormatan terhadap simbol negara seperti lagu kebangsaan dan bendera menjadi poin mutlak bagi Iran.
Masalah keamanan di lokasi turnamen juga tidak luput dari perhatian. Iran menuntut perlindungan menyeluruh mulai dari akses kedatangan di bandara, fasilitas akomodasi hotel, hingga pengawalan ketat di jalur perjalanan menuju stadion pertandingan di tanah Amerika Utara.
ÔÇ£Kami pasti akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026, tetapi tuan rumah harus mempertimbangkan kekhawatiran kami,ÔÇØ tulis federasi Iran melalui laman resminya.
ÔÇ£Kami akan berpartisipasi dalam turnamen Piala Dunia, tetapi tanpa mundur sedikit pun dari keyakinan, budaya, dan pendirian kami,ÔÇØ tegas pernyataan tersebut.
Status Wajib Militer dan Isu Visa
Fokus utama dalam negosiasi ini adalah jaminan akses bagi para bintang lapangan hijau yang pernah menjalankan pengabdian militer di bawah IRGC. Hal ini menjadi krusial mengingat beberapa negara tuan rumah memiliki kebijakan pembatasan terhadap individu yang terafiliasi dengan organisasi tersebut.
Presiden FFIRI Mehdi Taj menyatakan, ÔÇ£Semua pemain dan staf teknis, terutama mereka yang telah menjalani masa wajib militer di Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC, seperti Mehdi Taremi dan Ehsan Hajsafi, harus diberikan visa tanpa masalah apa pun.ÔÇØ
Pihak Iran menutup pernyataan dengan menegaskan, ÔÇ£Tidak ada kekuatan luar yang dapat merampas partisipasi Iran dalam piala yang telah mereka menangi kualifikasinya dengan penuh prestasi.ÔÇØ
Respons Amerika Serikat dan Posisi FIFA
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sempat memberikan pernyataan bahwa delegasi sepak bola Iran pada dasarnya tetap diterima untuk masuk ke negaranya. Namun, Rubio juga memberikan peringatan bahwa AS memiliki otoritas untuk menolak individu dengan afiliasi kuat pada kelompok yang dilarang.
Situasi ini semakin pelik karena Kanada telah menetapkan IRGC sebagai organisasi terlarang, yang berpotensi membatasi pergerakan pejabat olahraga Iran. Sebelumnya, kepala federasi sepak bola Iran dilaporkan sempat mengalami penolakan masuk ke wilayah Kanada.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berupaya meredam polemik ini dengan menjamin bahwa agenda pertandingan Iran di Amerika Serikat akan berjalan sesuai jadwal. Berdasarkan hasil undian, Iran yang bermarkas di Tucson, Arizona, tergabung dalam Grup G bersama Belgia, Selandia Baru, dan Mesir.
Tim berjuluk Team Melli tersebut dijadwalkan melakoni pertandingan pembuka melawan Selandia Baru di Los Angeles pada pertengahan Juni tahun depan. Kini, kelanjutan partisipasi mereka sangat bergantung pada proses negosiasi antara otoritas olahraga dan pemangku kebijakan politik kedua belah pihak.