Otoritas Iran resmi mengembalikan seluruh aset milik kapten tim nasional sepak bola putri, Zahra Ghanbari, pada Rabu (15/4/2026) setelah sempat disita akibat upaya pencarian suaka di Australia. Keputusan pengembalian harta benda gelandang berusia 34 tahun tersebut dilakukan menyusul kepulangannya ke Teheran secara sukarela.
Aset Ghanbari sebelumnya dibekukan oleh pemerintah setelah dirinya masuk dalam daftar 400 warga negara yang dianggap sebagai pendukung musuh. Dilansir dari Detik Sport, status tersebut disematkan karena Ghanbari bersama empat rekan setimnya menolak menyanyikan lagu kebangsaan pada ajang Piala Asia Wanita 2026 sebagai bentuk protes politik.
Pemerintah Iran melakukan perubahan kebijakan secara drastis terhadap Ghanbari yang kini dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan setempat. Laporan The Telegraph menyebutkan bahwa pihak berwenang menilai adanya perubahan perilaku dari sang pemain setelah memutuskan kembali ke kampung halamannya.
"Aset Zahra Ghanbari, seorang pemain sepak bola untuk tim nasional wanita Iran, yang telah disita, sudah dilepaskan berdasarkan keputusan pengadilan," tulis media Iran Mizan sebagaimana dikutip dari The Telegraph.
Setibanya di Teheran, Ghanbari mendapatkan sambutan resmi dalam sebuah upacara khusus sebagai bentuk apresiasi atas kepulangannya. Meskipun demikian, kasus ini menyoroti tekanan besar yang dihadapi atlet Iran saat berkompetisi di luar negeri, termasuk ancaman terhadap keluarga dan penyitaan properti pribadi.
Kelompok hak asasi manusia mencatat adanya dugaan intimidasi terhadap keluarga para pemain timnas putri, termasuk pemanggilan orang tua oleh agen intelijen untuk diinterogasi. Di sisi lain, otoritas Iran menuduh pemerintah Australia melakukan provokasi agar para atlet tersebut membelot dari negaranya.
Hingga saat ini, empat pemain lainnya yang terlibat dalam aksi protes di Piala Asia Wanita 2026 dilaporkan masih berada di Australia untuk mencari perlindungan hukum. Status aset serta keamanan keluarga para pemain yang belum kembali tersebut masih menjadi perhatian lembaga internasional.