Inter Milan berhasil melaju ke babak final Coppa Italia 2025-2026 setelah menaklukkan Como 1907 dengan skor tipis 3-2 pada laga leg kedua semifinal di Stadion Giuseppe Meazza, Rabu (22/4/2026) dini hari WIB. Hasil tersebut membuat skuad asuhan Simone Inzaghi unggul agregat 3-2 atas lawannya.
Kemenangan tuan rumah dipastikan melalui sepasang gol Hakan Calhanoglu pada menit ke-69 dan 86, serta gol penentu dari Petara Sucic pada menit ke-89. Dilansir dari Bola, tim tamu sebenarnya sempat memimpin dua gol lebih dulu melalui aksi Martin Baturina menit ke-32 dan Lucas Da Cunha pada menit ke-48.
Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap performa anak asuhnya meskipun gagal melangkah ke partai puncak. Ia menilai para pemain muda di timnya telah berjuang maksimal melawan tim yang lebih berpengalaman.
"Kami adalah salah satu tim termuda di Eropa, dan terkadang itu tidak mudah. Selamat kepada mereka; kita harus terus berada di jalur ini," kata Fabregas kepada Sportmediaset dikutip dari Tutto Mercato Web.
Fabregas melakukan analisis mendalam terhadap jalannya pertandingan tersebut. Menurutnya, dominasi I Lariani mulai goyah setelah gol pertama lawan tercipta, meski terdapat peluang emas dari pemainnya yang bisa mengubah hasil akhir.
"Mungkin jalannya pertandingan berubah setelah unggul 2-1, tetapi peluang Diao bisa saja membalikkan keadaan bagi kami. Saya tahu dari mana kami memulai, dan kami berada di jalur yang bagus," kata Fabregas.
Mantan pemain tim nasional Spanyol ini juga menyoroti kematangan skuad Inter Milan yang dihuni pemain senior. Fabregas membandingkan stabilitas tim lawan dengan perkembangan pesat yang sedang dijalani oleh manajemen Como saat ini.
"Saya tenang; saya tahu para pemain ini akan menampilkan performa hebat hari ini. Saya sangat bangga, meskipun kami masih sedikit kekurangan," kata Fabregas.
Pelatih berusia 38 tahun tersebut mengakui keunggulan fisik dan mentalitas lawan di area pertahanan. Ia mencatat adanya perbedaan pengalaman kolektif antara para pemainnya dengan penggawa Nerazzurri.
"Kami bermain melawan tim veteran, yang telah bermain bersama selama 6-7 tahun, dan mereka dengan mudah memenangkan Scudetto, meskipun Chivu tidak akan mengatakan demikian," sambungnya.
Tekanan di dalam kotak penalti menjadi faktor kunci kegagalan tim tamu mempertahankan keunggulan. Fabregas menekankan pentingnya melihat respons mental para pemainnya setelah mendapat tekanan bertubi-tubi dari Inter Milan.
"Penting bagi saya untuk melihat reaksi mereka; mereka sangat kuat di area penalti, sementara kami masih sedikit kekurangan," tandasnya.
Meskipun menelan kekalahan pahit, Fabregas menolak untuk terpuruk dalam kekecewaan yang mendalam. Ia justru memberikan pujian atas kerja keras tim yang telah membawa klub berkembang pesat dalam dua tahun terakhir.
"Tentu saja saya kecewa. Dua tahun lalu kami bahkan tidak memiliki lapangan latihan. Saya bisa marah pada hari Jumat tentang performa melawan Sassuolo. Tapi tidak hari ini," katanya.
Dalam menutup pernyataannya, Fabregas merujuk pada pengalaman pelatih top dunia untuk memotivasi skuadnya. Kini, Como 1907 akan mengalihkan fokus sepenuhnya untuk mengejar posisi di zona kompetisi Eropa musim depan.
"Dalam karier saya, saya telah banyak menang dan kalah. Saya membaca wawancara dengan Klopp di mana dia mengatakan dia telah kalah dalam enam final pertama, tetapi kami adalah Como dan kami semakin dekat," ujarnya.
Target utama Como saat ini adalah finis di zona Liga Champions dengan memaksimalkan lima pertandingan sisa di Serie A. Fabregas menegaskan bahwa seluruh tim harus segera bangkit dan mengumpulkan poin maksimal di laga-laga berikutnya.
"Ada sedikit yang yang kurang, tetapi kami hanya bisa bangga dengan tim ini. Kami memiliki lima pertandingan liga tersisa dan kami tidak bisa kalah hanya karena kami sedih. Kami tidak bisa membiarkan musim ini sia-sia," ulasnya.