Inter Milan resmi mengunci gelar scudetto ke-21 setelah menumbangkan Parma dengan skor 2-0 di Stadion Giuseppe Meazza pada pekan ke-35 Serie A, Minggu (3/5/2026). Dilansir dari Bola, kemenangan ini memastikan tim asuhan Cristian Chivu menjadi juara Liga Italia musim 2025-2026.
Hasil ini melampaui kebutuhan minimal Inter yang sebenarnya hanya memerlukan hasil imbang untuk mengamankan takhta. Pesaing terdekat mereka, Napoli, sebelumnya hanya mampu bermain tanpa gol saat menghadapi Como pada Sabtu (2/5/2026).
Gol pembuka keunggulan dicetak oleh Marcus Thuram yang memanfaatkan operan Piotr Zielinski lewat sepakan kaki kanan. Henrikh Mkhitaryan kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-80 setelah menerima umpan matang dari kapten tim, Lautaro Martinez.
Keberhasilan ini menempatkan Cristian Chivu dalam catatan sejarah sebagai sosok yang menjuarai Serie A bersama Inter baik sebagai pemain maupun pelatih. Chivu mengikuti jejak Armando Castelazzi serta menyamai prestasi Jose Mourinho yang meraih gelar di musim debut kepelatihannya.
Kapten tim memberikan apresiasi tinggi terhadap dampak positif yang dibawa sang pelatih ke dalam ruang ganti setelah kekalahan menyakitkan di final kompetisi Eropa musim lalu.
"Pelatih telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan membawa energi dan antusiasme baru," ujar Lautaro Martinez, Kapten Inter Milan.
Ia menambahkan bahwa perubahan suasana sangat dibutuhkan tim untuk bangkit dari titik terendah demi mengembalikan motivasi bertanding para pemain.
"Jadi setelah empat tahun yang hebat bersama Simone (Inzaghi), mungkin kami membutuhkan perubahan suasana setelah Final Liga Champions itu," kata Lautaro Martinez, Kapten Inter Milan.
Lautaro menekankan bahwa pendekatan Chivu membuat seluruh elemen tim merasa dilibatkan dalam proses pencapaian target musim ini.
"Chivu memastikan semua orang merasa terlibat dan bahkan bisa berlatih dengan senyum, itu sangat membantu," ujarnya Lautaro Martinez, Kapten Inter Milan.
Mantan kiper legendaris klub menilai Chivu memiliki atribut taktis dan kepemimpinan yang lengkap layaknya perpaduan beberapa manajer besar yang pernah menangani klub tersebut sebelumnya.
"Sebuah perpaduan antara Mourinho, Ranieri, dan Spalletti. Mourinho dalam cara menyatukan kelompok dan merayakan bersama semua orang, Ranieri dalam komunikasi eksternal, serta Spalletti dalam situasi permainan," tutur Walter Zenga, Kiper legendaris Inter.
Presiden klub menegaskan bahwa kesuksesan meraih bintang kedua di atas logo klub merupakan buah dari budaya kerja keras yang ditanamkan sejak awal musim.
"Ini adalah scudetto milik Cristian Chivu dan para pemain, yang harus kami ucapkan terima kasih atas apa yang telah mereka lakukan. Di baliknya ada budaya kerja yang hebat dan rasa memiliki yang kuat, yaitu kesadaran akan apa arti mewakili Inter," ujar Beppe Marotta, Presiden Inter.
Marotta juga menyoroti perkembangan karier Chivu yang cemerlang mulai dari menangani tim muda hingga akhirnya mempersembahkan gelar liga utama.
"Chivu adalah seorang pemimpin, ia pernah memenangkan treble sebagai pemain, bekerja dengan baik di tim Primavera, dan juga berkembang di Parma," ucap Beppe Marotta, Presiden Inter.
Pihak manajemen berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut mengingat kontribusi besar yang telah diberikan sang pelatih asal Rumania tersebut.
"Perkembangannya sangat jelas, ia akan memiliki karier yang cemerlang dan saya berharap ia bisa terus bertahan di sini. Bagi kami dia adalah sosok yang ideal. Kesuksesan ini terutama adalah karena jasanya," ucap Beppe Marotta, Presiden Inter.
Statistik mencatat Inter menjadi tim paling berbahaya dalam situasi bola mati dengan koleksi 17 gol dari sepak pojok dan 19 gol melalui sundulan sepanjang musim ini.