Indonesia Raih Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global Versi J.P. Morgan

Indonesia Raih Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global Versi J.P. Morgan
Foto: Ilustrasi Indonesia Raih Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global Versi J.P. Morgan.

Indonesia menduduki peringkat kedua dunia sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di tengah guncangan energi global menurut laporan terbaru J.P. Morgan Asset Management bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026. Capaian ini diumumkan oleh Pemerintah pada Sabtu (25/4/2026) berdasarkan analisis terhadap 52 negara di seluruh dunia.

Dilansir dari Detik Finance, laporan tersebut menggunakan indikator total insulation factor untuk mengukur kemampuan negara dalam mengagregasi sumber energi domestik. Indonesia mencatatkan skor insulation factor sebesar 77 persen, berada tepat di bawah Afrika Selatan (79 persen) dan mengungguli Tiongkok (76 persen) serta Amerika Serikat (70 persen).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa apresiasi internasional ini merupakan hasil kerja keras lintas instansi dalam menjaga stabilitas energi nasional. Pengakuan tersebut dianggap sebagai bukti keberhasilan pemerintah dalam mengelola sumber daya energi di dalam negeri.

"Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang Pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi. Di tengah volatilitas harga energi global, posisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 dan membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis Kementerian Koordinator Perekonomian, Sabtu (25/4/2026).

Pemerintah menegaskan bahwa peringkat tinggi ini tidak akan membuat otoritas berpuas diri mengingat risiko energi yang masih mengintai secara global. Strategi penguatan produksi migas dan percepatan adopsi kendaraan listrik menjadi fokus utama dalam menjaga ketahanan struktural ke depan.

"Capaian ini tidak menjadikan Indonesia lengah terhadap risiko yang masih ada. Pemerintah terus memperkuat beberapa arah kebijakan, antara lain optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas dan memperkuat penerimaan PNBP," tegas Airlangga.

Kekuatan energi nasional ditopang oleh produksi batu bara domestik yang menyumbang 48 persen konsumsi energi akhir, diikuti gas bumi 22 persen, dan energi terbarukan 7 persen. J.P. Morgan memasukkan Indonesia dalam kelompok negara yang diuntungkan oleh produksi batu bara lokal bersama India, Vietnam, dan Filipina.

Selain itu, tingkat paparan Indonesia terhadap gangguan jalur distribusi energi dunia tercatat sangat minim. Impor migas melalui Selat Hormuz hanya sebesar 1 persen dari total konsumsi energi primer, jauh lebih rendah dibandingkan Korea Selatan yang mencapai 33 persen atau Singapura sebesar 26 persen.

Sebaliknya, negara-negara maju seperti Italia, Jepang, dan Belanda diidentifikasi sebagai wilayah yang paling rentan. Kerentanan tersebut dipicu oleh ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor minyak dan gas bumi dari pasar internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi