IMF Prediksi Dunia Alami Kelangkaan Minyak pada 2026

IMF Prediksi Dunia Alami Kelangkaan Minyak pada 2026
Foto: Ilustrasi IMF Prediksi Dunia Alami Kelangkaan Minyak pada 2026.

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi dunia akan menghadapi kekurangan pasokan minyak pada 2026, meskipun ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berakhir pekan ini. Kondisi tersebut dipicu oleh gangguan logistik dan penurunan drastis produksi global sebagaimana dilaporkan pada Kamis (16/4/2026).

Analisis mengenai ancaman krisis energi ini muncul seiring dengan penyumbatan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Kelangkaan tetap mengintai pasar internasional karena kapasitas produksi tidak mampu pulih secara instan setelah mengalami disrupsi besar-besaran, dilansir dari Detik Finance.

Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menjelaskan bahwa pembukaan jalur laut tidak serta merta menghapus risiko defisit pasokan dalam jangka pendek.

"Jika semuanya berhenti malam ini dan mulai besok kita bergerak menuju pembukaan Selat (Hormuz), kita masih akan menghadapi kekurangan minyak untuk tahun ini," kata Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas.

Gourinchas juga memberikan penekanan khusus pada kebijakan fiskal negara-negara terdampak. Ia mengingatkan agar otoritas pemerintahan tidak menguras anggaran publik demi subsidi energi yang melampaui batas kemampuan keuangan negara.

"Ada banyak momentum dalam (pertumbuhan) ekonomi global yaitu berkurangnya ketidakpastian atas tarif AS dan ledakan investasi kecerdasan buatan," tutur Gourinchas.

Data dari Badan Energi Internasional (IEA) memperkuat kekhawatiran tersebut dengan mencatat penurunan pasokan minyak mentah sebesar 10,1 juta barel per hari pada Maret 2026. Angka ini tercatat sebagai kontraksi pasokan paling signifikan dalam sejarah industri energi dunia.

Meskipun IEA memperkirakan produksi masih sedikit di atas permintaan sebesar 441.000 barel per hari, angka ini merosot jauh dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 2,4 juta barel per hari. Penurunan tajam ini memaksa IMF merevisi target pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen.

Lembaga donor internasional tersebut memaparkan bahwa eskalasi konflik yang berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga gas alam dan minyak hingga 200 persen pada 2027.

"Itu akan hampir sama dengan terjadinya resesi global, yang didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi di bawah 2%, yang hanya terjadi empat kali sejak tahun 1980," kata IMF.

Situasi ini diprediksi akan mendorong inflasi global ke level 4,4 persen sepanjang tahun berjalan. IMF menegaskan bahwa jika pertumbuhan ekonomi jatuh ke bawah angka 2 persen, maka dunia secara teknis masuk ke dalam fase resesi ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi