IHSG Melemah ke Level 6858 Akibat Tekanan Rupiah dan Yield SUN

IHSG Melemah ke Level 6858 Akibat Tekanan Rupiah dan Yield SUN
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 6858 Akibat Tekanan Rupiah dan Yield SUN.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan koreksi sebesar 0,68 persen ke posisi 6.858 pada penutupan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi negara sebagaimana dilansir dari Suara.

Riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa sentimen utama yang menekan pasar saham domestik berasal dari pergerakan mata uang garuda yang menyentuh level terendah baru serta rencana penyesuaian bobot indeks global.

"Pelemahan Rupiah pada level terendah baru serta antisipasi penurunan bobot oleh MSCI menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan IHSG,ÔÇØ tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Analis menjelaskan bahwa kondisi pasar semakin terbebani oleh kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang melonjak 10 basis poin menjadi 6,72 persen. Level tersebut merupakan pencapaian tertinggi dalam dua pekan terakhir bagi yield obligasi pemerintah Indonesia.

Kenaikan yield tersebut selaras dengan penguatan harga minyak dunia yang menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Di pasar valuta asing, rupiah melemah hingga ke level Rp17.525 per dolar Amerika Serikat (AS).

Secara teknikal, indikator pasar menunjukkan adanya potensi kelanjutan tren penurunan dalam durasi pendek jika indeks tidak mampu bertahan pada titik dukung tertentu.

"Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level 6.700-6.750, namun jika IHSG bertahan di atas level tersebut diperkirakan berpotensi terjadi technical rebound, menguji level 6.900," tulis Phintraco.

Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 31,08 juta saham dengan nilai total Rp16,27 triliun. Tercatat sebanyak 486 saham mengalami pelemahan, sementara 217 saham menguat, dan 256 saham lainnya stagnan di tengah frekuensi transaksi sebanyak 2,51 juta kali.

Sektor kesehatan tercatat sebagai pemberat terdalam dengan koreksi 3,51 persen, berbanding terbalik dengan sektor material dasar yang justru menguat 1,85 persen. Sejumlah saham seperti MORA, ASPR, dan IRRA menjadi top losers, sementara NZIA, CCSI, dan ELPI berada di jajaran top gainers.

Artikel terkait

Rekomendasi