IHSG Melemah ke Level 7.541 Saat Dow Jones dan S\&P 500 Menguat

IHSG Melemah ke Level 7.541 Saat Dow Jones dan S\&P 500 Menguat
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 7.541 Saat Dow Jones dan S\&P 500 Menguat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada Rabu (23/04) dengan berada di zona merah. Dilansir dari Detik Finance, indeks domestik tersebut mengalami pelemahan tipis sebesar 0,24% yang membawanya ke posisi 7.541,61.

Pergerakan indeks sempat mendapatkan dukungan dari penguatan sejumlah saham besar seperti ASII, MORA, dan BMRI. Namun, tekanan jual pada saham DSSA, BREN, dan AMMN akhirnya menarik IHSG jatuh ke teritori negatif hingga penutupan pasar.

Aktivitas investor asing turut mewarnai tekanan pada bursa domestik dengan catatan jual bersih mencapai Rp1,04 triliun di pasar reguler. Secara keseluruhan di seluruh pasar, nilai penjualan bersih oleh pelaku pasar mancanegara menyentuh angka Rp827,42 miliar.

Penurunan kinerja sektoral dipimpin oleh industri dasar yang terkoreksi paling dalam hingga 0,68%. Sebaliknya, sektor transportasi justru tampil perkasa dengan mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 4,76% di tengah pelemahan pasar secara umum.

Kondisi pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan bursa saham Amerika Serikat yang justru membukukan penguatan. Indeks Dow Jones tercatat naik 0,69% ke angka 49.490, sementara S\&P 500 bertambah 1,05% menjadi 7.137, dan Nasdaq melompat 1,64% ke level 24.657.

Optimisme di pasar global ini didorong oleh kabar perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang memperkuat harapan stabilitas keamanan. Hal ini memberikan angin segar bagi para investor di bursa Wall Street dalam jangka pendek.

Meskipun sentimen global positif, indikator saham Indonesia di luar negeri menunjukkan arah yang beragam. ETF EIDO mengalami kenaikan tipis sebesar 0,12%, namun di sisi lain, MSCI Indonesia justru terpantau mengalami penurunan sebesar 0,79%.

Rencana Ekspansi Kapasitas Energi Barito Renewables Energy

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus mengejar target ambisius dalam pengembangan bisnis energi panas bumi. Emiten ini memproyeksikan total kapasitas produksi dapat menyentuh angka 1 gigawatt (GW) pada akhir tahun 2026 mendatang.

Langkah ini diawali dengan peningkatan kapasitas terpasang dari 886 MW menjadi 910 MW pada akhir 2025. Kapasitas tersebut diprediksi akan kembali bertambah menjadi 926 MW setelah penyelesaian proyek retrofit Wayang Windu pada awal tahun ini.

Perseroan juga melaporkan bahwa proyek Salak Binary dan retrofit Salak telah memberikan tambahan daya sekitar 7,7 MW yang melampaui target semula. Selain itu, pengeboran eksplorasi di Hamiding pada akhir 2025 menunjukkan potensi sumber daya hingga 60 MW.

Sinar Terang Mandiri Bagikan Dividen Tahun Buku 2025

Kabar mengenai imbal hasil investasi datang dari PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) yang telah menetapkan kebijakan pembagian dividen tunai. Perseroan memutuskan untuk membagikan total dana sebesar Rp60,25 miliar kepada para pemegang sahamnya.

Nilai tersebut setara dengan Rp14,75 per lembar saham atau mencerminkan rasio pembayaran sekitar 29,81% dari total laba bersih tahun buku 2025. Dari jumlah tersebut, pemegang saham pengendali akan menerima bagian sebesar Rp48,67 miliar.

Manajemen juga mengalokasikan dana cadangan sebesar Rp1,50 miliar, sementara sisa laba tetap disimpan untuk mendukung operasional dan rencana ekspansi masa depan. Meski nominal sudah ditetapkan, jadwal resmi pembagian dividen ini masih menunggu pengumuman lebih lanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi