Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat tren negatif dengan penutupan melemah sebesar 0,32 persen atau turun 22,97 poin ke posisi 7.106,52 pada perdagangan Senin (27/4/2026). Penurunan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah serta tekanan pada nilai tukar rupiah.
Dilansir dari Market melalui data IDX Mobile, tercatat sebanyak 286 saham mengalami pelemahan, sementara 423 saham menguat dan 250 saham lainnya berada di posisi stagnan. Aktivitas pasar melibatkan transaksi 30,52 miliar lembar saham dengan nilai mencapai Rp16,53 triliun.
Pergerakan saham berkapitalisasi besar menunjukkan hasil beragam, di antaranya saham BBCA yang terkoreksi 1,24 persen ke level Rp5.975 dan saham TPIA yang anjlok 4,17 persen menjadi Rp5.750. Sebaliknya, saham AMMN mencatat penguatan signifikan sebesar 8 persen ke posisi Rp5.400.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari menjelaskan bahwa indeks komposit sempat turun tajam hingga 6,61 persen pada pekan sebelumnya akibat sentimen geopolitik global. Kondisi pasar energi terancam tidak stabil karena risiko gangguan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran.
"Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek," ujar Brigita Kinari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).
Selain faktor global, sentimen domestik turut menekan pasar melalui penyesuaian harga BBM non-subsidi dan terdepresiasinya nilai tukar rupiah hingga menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp17.315 per dolar AS. Hal ini mendorong Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen.
"Namun, pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal. Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing," ujar Brigita Kinari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).
Kombinasi antara kebijakan moneter ketat dan penyesuaian harga energi dianggap sebagai langkah defensif otoritas dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Investor kini memantau efektivitas kebijakan tersebut dalam menghadapi volatilitas nilai tukar dan arus modal asing.