Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar 22,969 poin atau 0,32 persen hingga berakhir di level 7.106,520 pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026). Penurunan ini dipicu oleh berlanjutnya tekanan jual dari investor asing di tengah fluktuasi pasar modal Indonesia.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing mencapai Rp 2,04 triliun di seluruh pasar sebagaimana dilansir dari Money. Keluarnya dana asing dalam jumlah besar ini memberikan beban signifikan, khususnya pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar.
Sektor perbankan menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh investor luar negeri. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai jual bersih tertinggi sebesar Rp 896 miliar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp 679 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 200 miliar.
Selain sektor finansial, tekanan jual juga melanda emiten pertambangan dan otomotif. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dilepas asing sebesar Rp 92 miliar, sementara PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan net sell senilai Rp 68 miliar.
Kinerja harga saham perbankan menunjukkan pelemahan variatif pada akhir sesi perdagangan. Saham BBCA terkoreksi 1,24 persen ke posisi Rp 5.975, sedangkan BMRI turun lebih dalam hingga 2,22 persen ke level Rp 4.400, dan saham BBRI melemah 0,65 persen menjadi Rp 3.050.
Berbanding terbalik dengan bank, saham ANTM justru berhasil menguat 1,73 persen ke level Rp 4.120 meskipun menghadapi tekanan jual asing. Di sisi lain, saham ASII mengalami penurunan tajam sebesar 3,16 persen dan berakhir di posisi Rp 6.125 setelah bergerak turun sepanjang hari.
Meskipun indeks secara keseluruhan melemah, investor asing masih melakukan akumulasi beli pada beberapa saham komoditas. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memimpin aksi beli bersih dengan nilai Rp 86 miliar, diikuti oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp 60 miliar.
Emiten lain yang juga diminati asing pada hari yang sama adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan net buy Rp 51 miliar. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) turut mencatatkan aksi beli masing-masing senilai Rp 39 miliar dan Rp 38 miliar.