Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi I, Senin (11/5/2026), mengalami kemerosotan tajam. Seperti dilansir dari Investortrust, indeks terpangkas sebesar 79,13 poin atau setara 1,14% sehingga posisinya melorot ke level 6.890.
Koreksi dalam ini disebabkan oleh melemahnya sebagian besar sektor saham utama. Sektor energi memimpin penurunan sebesar 2,51%, diikuti sektor keuangan yang terpangkas 1,61%, dan sektor industri yang melemah 1,53%.
Selain itu, sektor material dasar juga mengalami penurunan sebesar 1,22%, sedangkan sektor properti melemah 0,66%. Sebaliknya, penguatan hanya terjadi pada saham-saham di sektor infrastruktur dan kesehatan.
Tekanan terhadap indeks turut dipicu oleh kejatuhan harga saham sejumlah emiten dengan kapitalisasi pasar besar (big cap) pada sesi pertama. Beberapa di antaranya meliputi BMRI, DSSA, TPIA, BREN, BRPT, AMMN, dan CUAN.
Kendati IHSG mengalami tekanan berat, beberapa saham justru mencatatkan lonjakan harga yang signifikan. Saham MEDS melesat 30,77% ke posisi Rp 153, disusul IKPM yang meningkat 29,65% menjadi Rp 258, dan DPUM yang menguat 27,33% ke level Rp 191.
Kenaikan pesat juga dibukukan oleh saham FIRE yang terangkat 22,06% menjadi Rp 166. Sementara itu, saham PEHA mencatatkan penguatan sebesar 22,04% hingga mencapai posisi Rp 454.
Tren negatif ini melanjutkan pelemahan dari akhir pekan lalu, saat IHSG ditutup jatuh 204,92 poin atau 2,86% ke level 6.969. Pada momen tersebut, pemodal asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 389,31 miliarder di seluruh pasar.
Aksi lego jangkar oleh investor asing paling banyak melanda saham BMRI dengan nilai mencapai Rp 436,38 miliar. Saham BUMI juga banyak dilepas sebesar Rp 82,88 miliar, disusul saham TINS senilai Rp 76,45 miIiar.
Kemerosotan indeks pada akhir pekan lalu didorong oleh anjloknya mayoritas saham big cap, terutama emiten tambang. Saham AMMN merosot 9,27%, TINS melemah 14,88%, INDY turun 14,82%, INCO jatuh 13,89%, BREN terpangkas 11,83%, dan EMAS anjlok 12,22%.
Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan hampir seluruh sektor. Sektor material dasar turun 7,80%, sektor energi minus 4,59%, sektor industri merosot 4,55%, sektor transportasi terpangkas 5,72%, sektor consumer primer melemah 3,39%, dan sektor keuangan turun 1,48%.
Di tengah kejatuhan akhir pekan lalu, sektor kesehatan menjadi penyelamat dengan menguat 0,70%. Saham-saham di sektor ini mendominasi daftar lonjakan harga tertinggi.
Saham MPOW bahkan terkena penolakan otomatis batas atas (auto reject atas/ARA) setelah melonjak 34,55%. Lonjakan ini diikuti oleh saham MEDS yang naik 34,48% ke Rp 117.
Selanjutnya, saham IRRA berhasil menguat 25% menjadi Rp 510, dan PEHA meningkat 24,83% ke level Rp 372. Saham KAEF turut terkerek naik sebesar 24,51%, sementara saham MORA melonjak 20% menuju posisi Rp 7.500.