Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu pagi ini. Aksi jual masif oleh para pelaku pasar membuat indeks saham domestik tersebut tersungkur cukup dalam.
Hingga pukul 11.00 WIB, IHSG terpantau anjlok hingga 4,01 persen atau setara dengan penurunan 248,31 poin. Kondisi ini memaksa indeks keluar dari zona aman dan mendarat di posisi 5.947,12.
Penurunan tajam ini membuat IHSG kembali terlempar ke bawah level psikologis 6.000. Padahal pada awal pembukaan, indeks sempat bergerak menguat dan menyentuh level tertinggi di posisi 6.213,80.
Data Perdagangan dan Pergerakan Saham
Aktivitas pasar modal sepanjang sesi pertama hari ini tergolong sangat padat. Total nilai transaksi tercatat menembus angka Rp11,60 triliun dari hasil perdagangan 18,04 miliar lembar saham.
Frekuensi transaksi yang terjadi mencapai 1,384 juta kali perdagangan. Namun sayangnya, intensitas perdagangan yang tinggi ini didominasi oleh pergerakan harga ke arah negatif.
Rincian jumlah emiten berdasarkan kondisi pergerakan harganya pada sesi ini:
- 715 saham mengalami pelemahan harga yang cukup signifikan.
- 61 saham terpantau masih mampu bertahan di zona hijau atau menguat.
- 183 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdampak oleh aksi jual massal. Kondisi tersebut langsung menggerus nilai kapitalisasi pasar hingga kini tersisa di kisaran Rp10.429 triliun.
Tekanan Dana Asing dan Nilai Tukar Rupiah
Ambruknya IHSG sejalan dengan derasnya aliran dana keluar dari investor asing. Tercatat pada perdagangan sebelumnya, investor mancanegara melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp1,39 triliun.
Meski sempat diserap oleh investor domestik pada hari sebelumnya, tekanan jual hari ini tampaknya terlalu berat untuk dibendung. Kondisi pasar modal ini kian diperparah oleh performa mata uang Garuda yang melemah.
Informasi mengenai kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah sebagai berikut:
| Indikator | Nilai Saat Ini |
|---|---|
| Nilai Tukar Rupiah | Rp17.925/US$ |
| Persentase Pelemahan | 0,4% |
| Level Psikologis Berikutnya | Rp18.000/US$ |
Data dari Refinitiv menunjukkan rupiah kini berada di titik terendah sepanjang masa (all time low). Setelah melewati angka Rp17.900, rupiah kini mulai mengancam level psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi Pasar Regional Asia
Anomali terjadi karena pelemahan IHSG ini justru berbanding terbalik dengan kondisi bursa saham di kawasan Asia lainnya. Sebagian besar bursa utama di wilayah regional justru terpantau bergerak di zona hijau.
Indeks Nikkei di Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan mencapai 2,91 persen. Sementara itu, bursa Shenzen di China dan bursa Taiwan menyusul dengan penguatan masing-masing di atas 2 persen.
Situasi ini mengindikasikan adanya tekanan domestik yang cukup kuat terhadap pasar keuangan Indonesia. Para investor kini menantikan langkah antisipasi untuk meredam gejolak yang terjadi di pasar modal dan pasar valuta asing.