PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menargetkan peningkatan volume penjualan bijih nikel pada tahun 2026 sebesar 11,6 persen demi memacu operasional dan produktivitas perusahaan. Strategi ini diambil di tengah lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga bahan bakar serta adanya penyesuaian nilai aset tambang.
Kinerja keuangan emiten berkode saham IFSH ini mencatatkan pertumbuhan signifikan dari sisi top line pada kuartal I-2026, seperti dilansir dari Industri pada Senin (18/5/2026). Penjualan perusahaan meningkat 43,18 persen secara tahunan menjadi Rp 296,77 miliar dari sebelumnya Rp 207,26 miliar.
Laba bruto perusahaan juga menanjak 62,21 persen secara tahunan menjadi Rp 93,89 miliar. Selain itu, laba usaha IFSH melonjak 164,47 persen hingga mencapai Rp 51,52 miliar dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp 19,48 miliar.
Namun, laba periode berjalan IFSH menyusut 34,48 persen secara tahunan menjadi Rp 6,84 miliar karena adanya beban lain-lain sebesar Rp 20,60 miliar. Secara bottom line, perusahaan membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 6,55 miliar.
Direktur IFSH, Iwan, menjelaskan bahwa fluktuasi harga komoditas global bergerak mengikuti siklus serta dinamika penawaran dan permintaan pasar. Oleh karena itu, manajemen menetapkan target yang lebih berhati-hati untuk periode tahun ini.
"Harga berfluktuasi mengikuti siklus dan supply-demand. Kami masih melihat positif untuk 2026. Tapi, di sisi cost juga ada kenaikan. Jadi (target tahun ini)kami konservatif," kata Iwan, Direktur PT Ifishdeco Tbk.
Pihak manajemen menegaskan bahwa penurunan laba bersih pada awal tahun ini bukan disebabkan oleh kinerja operasional, melainkan faktor akuntansi. Penyesuaian nilai pada aset tambang menjadi pemicu utama koreksi tersebut.
"Tetap kami masih positif sampai dengan akhir tahun," tegas Iwan, Direktur PT Ifishdeco Tbk.
Kelangsungan usaha perseroan pada tahun ini akan bertumpu pada optimalisasi kuota penjualan nikel yang telah disetujui oleh pemerintah. Target operasional tersebut disusun berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang sah.
Presiden Direktur Ifishdeco, Muhammad Ishaq, mengungkapkan bahwa volume target penjualan tahun ini dipatok sebesar 1,449,000 metrik ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi penjualan tahun lalu yang mencapai 1.294.880 metrik ton.
Realisasi tahun lalu berada di bawah kuota 2,2 juta metrik ton akibat kendala cuaca. Terkait peluang revisi RKAB pada semester II-2026, perusahaan masih memilih bersikap fleksibel.
"IFSH punya strategi sendiri, kami lebih pada bagaimana penjualan di 2026 bisa lebih bagus dibandingkan realisasi 2025. (Revisi RKAB) kami lihat dulu dinamikanya seperti apa, karena dari sisi aturan kami boleh mengajukan revisi, tapi tergantung pada kondisi bisnisnya nanti," ungkap Muhammad Ishaq, Presiden Direktur Ifishdeco.
Selain memacu produksi internal, produsen nikel ini tengah merancang agenda ekspansi anorganik melalui akuisisi lahan tambang baru. Penjajakan intensif telah berjalan sejak tahun lalu dengan menyasar beberapa pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP).
Perusahaan telah melakukan pembicaraan awal dengan enam pemilik IUP nikel dan berencana menindaklanjuti setengah dari target tersebut. Lokasi tambang potensial yang sedang diincar berada di wilayah Sulawesi dan Maluku.
"Kemungkinan sekitar 50%-nya nanti akan kami tindaklanjuti. Jadi sudah ada beberapa yang akan kami kerjakan pada 2026, sebagai tindak lanjut dari pendekatan yang sudah kami lakukan pada tahun 2025," ujar Muhammad Ishaq, Presiden Direktur Ifishdeco.
Manajemen optimistis industri nikel nasional masih menjanjikan ruang pertumbuhan jangka panjang yang besar. Langkah penambahan aset tambang dipandang strategis untuk mengamankan cadangan masa depan.
"Jadi, kami meyakini bahwa prospek nikel masih cukup bagus," ujar Muhammad Ishaq, Presiden Direktur Ifishdeco.
Kriteria tambang yang dibidik mencakup kejelasan aspek hukum, volume cadangan yang memadai, serta valuasi harga yang masuk akal. Manajemen mengakui proses akuisisi ini memerlukan investasi yang tidak sedikit.
"Betul, untuk akuisisi tambang itu biasanya biayanya cukup tinggi," ujar Iwan, Direktur PT Ifishdeco Tbk.
Guna mendanai ekspansi tersebut, perusahaan menyiapkan opsi bauran kas internal, pinjaman, hingga aksi korporasi rights issue di pasar modal. Di luar dana akuisisi, IFSH menganggarkan belanja modal sebesar Rp 45 miliar untuk eksplorasi dan operasional, serta siap membagikan dividen sebesar Rp 26 per saham dari laba bersih tahun buku 2025.