Pasar karbon Indonesia atau IDX Carbon tengah memperkuat infrastruktur untuk mempermudah partisipasi investor individu dalam mendukung target net zero emission (NZE). Langkah ini diambil guna menjembatani kebutuhan sektor retail yang ingin berkontribusi langsung pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
Data dari IDX Carbon menunjukkan sebanyak 2.065 penerima manfaat telah melakukan tebus karbon atau carbon offset dengan mendanai berbagai proyek lingkungan. Dari total tersebut, tercatat 1.566 di antaranya merupakan kategori individu atau retail yang berhasil mengimbangi lebih dari 1,3 juta ton CO2 ekuivalen.
Dilansir dari Lestari, kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim kini mulai bertransformasi menjadi aksi nyata di tingkat personal. Selain individu, terdapat 40 kegiatan yang juga aktif melakukan carbon offset melalui platform bursa karbon nasional tersebut.
"Kami melihat sebuah tren positif di mana kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim terus bertumbuh dan menunjukkan perkembangan yang positif. Ini menandakan bahwa isu keberlanjutan mulai bertransformasi dari sekadar wacana institusi menjadi kesadaran individu," ujar Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Risa E. Rustam.
Memasuki April 2026, IDX Carbon bersinergi dengan Bank Mandiri untuk memperluas ekosistem perdagangan karbon ke segmen masyarakat luas. Kolaborasi ini diwujudkan melalui peluncuran fitur Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) pada platform LivinÔÇÖ Planet di aplikasi LivinÔÇÖ by Mandiri.
Kehadiran fitur ini memungkinkan nasabah retail menghitung jejak emisi harian mereka menggunakan carbon calculator. Setelah mengetahui dampaknya, nasabah dapat langsung melakukan pembelian unit karbon secara transparan dan terverifikasi melalui layanan perbankan digital tersebut.
"Melalui fitur ini, kami ingin mendorong partisipasi aktif nasabah dalam aksi iklim. Tidak berhenti pada peningkatan awareness atas jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, nasabah juga kami dorong untuk mengambil peran dalam mengimbanginya melalui melalui mekanisme carbon offset yang kredibel dan terverifikasi," ujar Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan.
Mengenal Mekanisme SPE-GRK dan Carbon Offset
SPE-GRK merupakan unit karbon yang merepresentasikan hasil pengurangan emisi dari proyek lingkungan yang telah melalui verifikasi ketat. Sertifikat ini menjadi bukti otentik bahwa gas rumah kaca telah berhasil dikurangi atau dihindari melalui aktivitas tertentu.
Implementasi carbon offset ini biasanya didorong melalui solusi berbasis alam seperti penanaman pohon, maupun solusi teknologi seperti efisiensi energi dan pengembangan energi terbarukan. Setiap kontribusi individu akan tercatat secara resmi dalam Sistem Registri Nasional (SRN) Pengendalian Perubahan Iklim.
Unit karbon yang tersedia saat ini bersumber dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei di Sumatera Utara. Fasilitas milik Pertamina New & Renewable Energy berkapasitas 2,4 MW ini mengolah limbah cair kelapa sawit menjadi energi bersih.
Proyek tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi sekitar 265 ribu ton CO2 ekuivalen. Angka pengurangan ini diklaim setara dengan jejak emisi yang dihasilkan oleh sekitar 30.000 kendaraan berbahan bakar bensin.
Risa E. Rustam menekankan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan karena dampaknya sudah mulai mengganggu stabilitas ekonomi global. BEI berkomitmen untuk terus menghadirkan ekosistem yang mendukung praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik atau ESG.
"Bagi kami di BEI, hal ini adalah peluang besar," tutur Risa.