Ibnu Grahan Kenang Momen Hadapi AC Milan Jelang Tur Pramusim 2026

Ibnu Grahan Kenang Momen Hadapi AC Milan Jelang Tur Pramusim 2026
Foto: Ilustrasi Ibnu Grahan Kenang Momen Hadapi AC Milan Jelang Tur Pramusim 2026.

Mantan pemain dan pelatih sepak bola nasional Ibnu Grahan menyambut antusias rencana kedatangan klub raksasa Italia AC Milan ke Jakarta untuk melakoni tur pramusim pada Agustus 2026 mendatang. Kehadiran Rossoneri tersebut membangkitkan memori saat dirinya memperkuat Surabaya Selection dalam laga persahabatan melawan tim yang sama pada tahun 1994 silam.

Kepastian mengenai rencana kunjungan klub asal San Siro tersebut memicu kegembiraan bagi pria asal Surabaya tersebut, sebagaimana dilansir dari Bola. Ibnu mengaku sangat menantikan pertandingan besar tersebut untuk melihat sejauh mana perkembangan level sepak bola Eropa terkini dibandingkan dengan pengalaman masa lalunya.

"Pas dengar berita tentang pramusim AC Milan ke Indonesia lawan Chelsea saya langsung tak nontok rek, jersey AC Milan ku ta gawe," kata pelatih asal Surabaya itu kepada Kompas.com.

Ibnu menyatakan keinginannya untuk mempelajari evolusi permainan di liga-liga top Eropa. Ketertarikannya pada laga berskala internasional ini serupa dengan antusiasmenya saat menyaksikan pertandingan tim nasional Indonesia melawan Argentina beberapa waktu lalu.

"I am enthusiastic to watch the upcoming match. I want to see the development of the Italian and English Leagues up to where they are. Like when Argentina played the national team, I watched it. I am very enthusiastic about watching big matches like this," imbuhnya.

Momen kedatangan Milan pada tahun 1994 di Stadion Gelora 10 November menjadi tonggak sejarah bagi karier Ibnu. Ia menceritakan proses seleksi ketat yang harus dilaluinya untuk bisa masuk ke dalam skuad Surabaya Selection yang terdiri dari gabungan pemain beberapa klub ternama saat itu.

"Ketika itu untuk Surabaya Selection ada seleksi dulu diikuti Assyabaab Salim Group, Persebaya dan Mitra Surabaya. Akhirnya dikerucutkan dan saya masuk dalam susunan pemain," ujar Ibnu Grahan.

Sebelum pertandingan berlangsung, tim pelatih sempat memberikan instruksi teknis mengenai cara menghadapi pemain Eropa yang memiliki postur tubuh besar. Namun, kenyataan di lapangan ternyata berbeda dengan asumsi awal mengenai kecepatan gerak para pemain bintang tersebut.

"Waktu sebelum AC Milan datang ke Surabaya, Pak Rusdy Bahalwan bilang 'pemain Eropa itu tinggi-tinggi pasti lambat-lambat kamu harus main pendek dan cepat' tapi ternyata meskipun tinggi yo cepet-cepet." kata Ibnu.

Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 1-4 untuk keunggulan AC Milan. Meskipun kalah, Ibnu tetap merasa bangga karena berkesempatan menghadapi deretan bintang dunia dan pelatih legendaris yang sedang berada di puncak kejayaannya.

"Ya mati laga berakhir berakhir dengan skor 1-4 itu," sambungnya sambil tertawa.

Ibnu mengingat nama-nama besar seperti Gianluigi Lentini hingga Dejan Savicevic yang menjadi pusat perhatian saat itu. Atmosfer stadion sangat luar biasa mengingat Milan datang dengan status sebagai salah satu tim terbaik di dunia.

ÔÇ£Kesannya sopo seng ga seneng, tidak hanya aku saja saat itu apalagi lagi sedang moncer-moncernya Gianluigi Lentini dan Dejan Savicevic. Lagi top-topnya Fabio Capello sebagai pelatih," kata pelatih berusia 58 tahun itu.

Satu hal yang paling berkesan bagi Ibnu adalah saat ia dipercaya menjadi algojo penalti bagi Surabaya Selection. Gol tunggal yang ia sarangkan ke gawang Sebastiano Rossi tersebut menjadi momen yang tidak terlupakan sepanjang kariernya.

ÔÇ£Nah ketika mendapat penalti itu tidak ada yang berani nendang, ya sudah saya ambil saja. harusnya Heri Kiswanto dan Jessie Mustamu tapi keduanya tidak siap. Terus nunjuk ÔÇÿIbnu ae-Ibnu aeÔÇÖ ya sudah saya, pokoknya nendang masuk dan dapat bonus,ÔÇØ katanya lagi.

Selain gol tersebut, Ibnu juga berhasil mendapatkan kenang-kenangan berupa jersey milik pemain Milan, Fernando De Napoli. Jersey tersebut masih ia simpan hingga saat ini sebagai bukti sejarah pertemuannya dengan bintang-bintang Eropa.

ÔÇ£Setelah itu saya tukar jersey masih saya simpan sampai sekarang, setelah pertandingan itu saya sering nonton pertandingan AC Milan meskipun tidak rutin tapi saya selalu ingin tahu perkembangan AC Milan,ÔÇØ ujar pelatih berlisensi A AFC.

Pengalaman menghadapi tim profesional Eropa memberikan pelajaran berharga mengenai standar pemulihan pemain yang belum lazim di Indonesia pada dekade 90-an. Ibnu mengamati bagaimana tim lawan sangat disiplin dalam melakukan prosedur pemulihan fisik segera setelah pertandingan berakhir.

ÔÇ£Dulu kita belum ngerti namanya hydrogen gymnastic lalu recovery pakai es batu yang namanya ice bath. Sebenarnya pada tahun 1990an ada yang memberitahu tapi tidak dilaksanakan dan di Indonesia sendiri tidak fokus di situ," tutur Ibnu Grahan.

Pemain asing seperti Dejan Savicevic menunjukkan profesionalisme tinggi dengan langsung kembali ke hotel untuk melakukan pemulihan tanpa menunggu seremoni pasca-pertandingan selesai. Kebiasaan ini menjadi standar baru yang ia pelajari dari sepak bola modern.

"AC Milan kan menginapnya di hotel kawasan Gunungsari nah setelah main mereka langsung kembali ke hotel dan berendam,ÔÇØ imbuhnya.

Detail kecil lainnya yang diperhatikan Ibnu adalah tuntutan pemain Milan terhadap spesifikasi bola yang digunakan. Hal-hal teknis seperti ini membuka wawasannya bahwa performa maksimal didukung oleh standar perlengkapan yang sangat presisi.

ÔÇ£Dejan itu setelah cetak 3 gol langsung balik ke hotel tidak menunggu sampai bubar. Saya tanyakan ke panitia terus saya tanya ngapain setelah di hotel terus dikasih tau setelah sampai hotel dia langsung melakukan recovery di kolam renang dan icebath," ujar mantan pelatih Bhayangkara FC itu.

Ibnu juga mengenang bagaimana para pemain Milan memprotes tekanan angin pada bola yang dianggap kurang keras menurut standar mereka. Perbedaan standar ini menunjukkan adanya gap pemahaman teknis antara sepak bola lokal dan internasional pada masa itu.

"Menurut mereka merasa kurang keras, pompanya antara ukuran 7-10, kan bagi kita biasanya di ukuran 7-8 itu sudah keras. Nah buat mereka itu kurang keras padahal bagi kita itu sudah keras karena kurang biasa ya mereka," sambungnya.

Segala pengetahuan yang didapat dari pengalaman masa lalu tersebut kini ia terapkan dalam karier kepelatihannya. Ia menekankan pentingnya bagi seorang pelatih untuk terus memperbarui ilmu agar tetap relevan dengan dinamika sepak bola yang terus berkembang.

ÔÇ£Nah itu yang sampai saat ini diluar permainan yang sangat melekat dipikiran saya,ÔÇØ ujarnya lagi.

Ibnu Grahan kini aktif mengelola akademi sepak bola dan terus memantau perkembangan taktik terkini. Baginya, belajar dari pertandingan-pertandingan besar adalah keharusan agar pengalaman yang ia miliki bisa dibagikan secara efektif kepada generasi muda.

ÔÇ£Penting sekali dalam arti biar tidak ketinggalan, anggap saja ini pelatih desa yang sudah umur masih ingin maju dan ingin belajar, sepak bola ini dinamis,ÔÇØ kata salah satu legenda sepak bola Surabaya itu.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa penguasaan wawasan baru merupakan kunci untuk mengukur kualitas sepak bola dalam negeri. Terus memperbarui pengetahuan akan membuat pengalaman masa lalu tetap relevan dalam membimbing anak didik.

ÔÇ£Biar pengetahuan dan pengalaman kita terasah, kita juga jadi tahu perkembangan level sepak bola kita,ÔÇØ pungkas Ibnu Grahan.

Artikel terkait

Rekomendasi