Umat Islam bersiap menyambut momen sakral Idul Adha dengan berbagai persiapan fisik dan spiritual. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah hukum mandi sebelum melaksanakan sholat Idul Adha.
Dilansir dari Cahaya, mandi sebelum sholat Idul Adha masuk dalam kategori sunnah muakkadah. Hal ini berarti amalan tersebut sangat dianjurkan, meskipun tidak bersifat wajib bagi umat Islam yang akan beribadah.
Seseorang yang tidak sempat mandi tetap sah menjalankan sholat Idul Adha. Namun, melakukan mandi sunnah ini dipercaya mampu menyempurnakan ibadah dan menambah nilai pahala di sisi Allah SWT.
Mayoritas ulama dari mazhab SyafiÔÇÖi, Maliki, hingga Hanbali menyepakati anjuran ini. Mereka berlandaskan pada kebiasaan para sahabat Nabi, termasuk Ali bin Abi Thalib yang mempraktikkannya.
Riwayat sejarah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad terbiasa mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh generasi awal umat Islam sebagai bagian dari syiar agama.
Imam Nawawi dalam kitab Al-MajmuÔÇÖ Syarah al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa mandi hari raya bertujuan menjaga kebersihan. Hal ini penting karena umat Islam akan berkumpul dalam jumlah besar untuk beribadah.
Kebutuhan Keramas dan Kebersihan Diri
Muncul anggapan bahwa mandi Idul Adha harus disertai keramas agar sah. Secara hukum fikih, keramas bukan merupakan syarat wajib dalam mandi sunnah ini, melainkan bagian dari adab kebersihan.
Perlu dibedakan antara mandi sunnah dengan mandi wajib atau junub. Pada mandi wajib, air harus mengenai seluruh permukaan kulit kepala dan rambut secara menyeluruh tanpa terkecuali.
Sementara pada mandi Idul Adha, penekanannya terletak pada kebersihan badan secara umum. Jika air sudah merata ke seluruh tubuh, maka amalan tersebut sudah dianggap cukup dan sah.
Tata Cara dan Niat Mandi Idul Adha
Langkah-langkah mandi Idul Adha hampir serupa dengan mandi besar pada umumnya. Urutan yang dianjurkan meliputi membasuh tangan, berwudhu, hingga menyiram seluruh anggota tubuh secara merata.
Dianjurkan untuk menyiram kepala sebanyak tiga kali dan memulai penyiraman tubuh dari sisi kanan terlebih dahulu. Kebersihan bagian tubuh yang tersembunyi juga perlu diperhatikan dengan saksama.
Berikut adalah bacaan niat mandi sunnah Idul Adha:
┘å┘Ä┘ê┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ║┘ÅÏ│┘Æ┘ä┘Ä ┘ä┘É┘è┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É Ï╣┘É┘è┘ÆÏ»┘É Ïº┘ä┘ÆÏº┘ÄÏÂ┘ÆÏ¡┘Ä┘ë Ï│┘Å┘å┘æ┘ÄÏ®┘Ä ┘ä┘É┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É Ï¬┘ÄÏ╣┘ÄϺ┘ä┘Ä┘ë
"Nawaitul ghusla liyaumi 'iidil Adha sunnatal Lillahi Ta'alaa."
Artinya: ÔÇ£Saya niat mandi pada hari Raya Idul Adha sebagai sunnah karena Allah TaÔÇÖala.ÔÇØ
Waktu Terbaik dan Amalan Pengiring
Waktu pelaksanaan mandi ini dimulai sejak tengah malam hingga sebelum sholat Id dimulai. Namun, waktu paling utama adalah setelah terbit fajar agar tubuh terasa segar saat berangkat ke masjid.
Selain mandi, terdapat beberapa amalan sunnah lain yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah memperbanyak takbir, memakai pakaian terbaik, menggunakan wewangian, dan tidak makan sebelum sholat Id dilaksanakan.
Secara spiritual, mandi ini merupakan simbol penyucian diri. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa kebersihan lahiriah merupakan gerbang utama menuju kebersihan batin dalam beribadah.