Bolehkah Puasa Dzulhijjah Hanya Satu Hari? Simak Penjelasan Ulama

Bolehkah Puasa Dzulhijjah Hanya Satu Hari? Simak Penjelasan Ulama
Foto: Ilustrasi Bolehkah Puasa Dzulhijjah Hanya Satu Hari? Simak Penjelasan Ulama.

Bulan Dzulhijjah menjadi momen spiritual yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, baik yang sedang menunaikan ibadah haji maupun yang berada di tanah air. Bagi muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji, terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak pahala, salah satunya adalah puasa Dzulhijjah.

Muncul pertanyaan di kalangan umat Islam mengenai boleh atau tidaknya melaksanakan puasa Dzulhijjah hanya selama satu hari saja. Kebutuhan ini biasanya muncul dari individu yang memiliki kendala fisik, beban pekerjaan berat, wanita haid, ibu menyusui, atau mereka yang baru mampu berpuasa pada hari-hari tertentu.

Melaksanakan puasa Dzulhijjah hanya satu hari hukumnya adalah boleh dan tetap sah, seperti dikutip dari Cahaya. Ibadah ini bersifat sunnah, bukan kewajiban, sehingga seseorang tetap memperoleh pahala sesuai dengan jumlah hari yang mampu ia jalankan.Anjuran puasa pada awal Dzulhijjah bersumber dari beberapa hadis Nabi Muhammad SAW, salah satunya riwayat dari Ummul Mukminin Hafsah RA:

ÔÇ£Rasulullah SAW biasa berpuasa pada hari Asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari setiap bulan.ÔÇØ (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis tersebut mengonfirmasi keutamaan puasa di awal bulan Dzulhijjah, namun tidak ada ketentuan baku yang mewajibkan pelaksanaannya penuh selama sembilan hari berturut-turut.

Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa puasa Dzulhijjah tetap sah meskipun dilakukan satu hari saja karena termasuk dalam kategori sunnah tathawwu' atau ibadah sukarela. Seseorang tetap berhak mendapatkan pahala sekalipun hanya memilih puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah atau puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah.

Keutamaan puasa ini berkaitan erat dengan kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang dikenal sebagai waktu-waktu terbaik dalam Islam. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

ÔÇ£Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,ÔÇØ yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Para ulama menerangkan bahwa keistimewaan sepuluh hari pertama ini melebihi waktu-waktu lainnya dalam setahun karena menjadi tempat berkumpulnya ibadah-ibadah besar seperti haji, kurban, zikir, sedekah, dan puasa.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-MajmuÔÇÖ Syarh al-Muhadzdzab memaparkan bahwa puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan karena bernilai pahala besar. Sementara itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menambahkan bahwa keutamaan waktu ini terjadi karena berkumpulnya seluruh ibadah pokok secara lengkap.

Hari Paling Utama untuk Berpuasa

Umat Islam yang tidak mampu menunaikan puasa penuh selama sembilan hari disarankan oleh para ulama untuk memprioritaskan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu puasa Arafah. Keutamaan puasa Arafah tercantum dalam hadis riwayat Muslim:

ÔÇ£Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.ÔÇØ

Puasa Arafah menjadi pilihan paling utama jika seseorang hanya sanggup berpuasa satu hari saja. Selain itu, terdapat pula puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah yang jamak diamalkan, meskipun terdapat perbedaan pandangan ulama mengenai kekuatan hadis yang melandasinya.

Aturan Pelaksanaan Puasa Dzulhijjah

Puasa Dzulhijjah tidak wajib dilaksanakan secara berurutan dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Seseorang diperbolehkan berpuasa secara terpisah, misalnya hanya pada tanggal 1, 3, dan 9 Dzulhijjah, dan ibadahnya tetap dinilai sah.

Sayyid Sabiq dalam buku Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa puasa sunnah memiliki fleksibilitas dan kelonggaran yang lebih luas daripada puasa wajib seperti Ramadan. Oleh sebab itu, umat Islam dapat mengatur pelaksanaannya sesuai dengan kondisi fisik dan kemampuan masing-masing.

Buku Puasa Sepanjang Tahun karya Yunus Hanis Syam menyebutkan setiap hari pada awal Dzulhijjah memiliki nilai spiritual tersendiri dalam konteks fadha'ilul a'mal atau motivasi amal kebaikan, dengan rincian berikut:

  • 1 Dzulhijjah: Hari ketika Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS.
  • 2 Dzulhijjah: Hari diselamatkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan.
  • 3 Dzulhijjah: Hari dikabulkannya doa Nabi Zakaria AS.
  • 4 Dzulhijjah: Allah SWT akan menghilangkan kesusahan dan kefakiran di hari kiamat bagi yang berpuasa.
  • 5 Dzulhijjah: Terbebas dari sifat nifak dan siksa kubur.
  • 6 Dzulhijjah: Allah SWT memandang dengan penuh rahmat dan tidak menyiksanya.
  • 7 Dzulhijjah: Allah SWT membuka 30 pintu kebaikan dan menutup 30 pintu kesulitan.
  • 8 Dzulhijjah: Diberikan pahala sebesar-besarnya oleh Allah SWT.
  • 9 Dzulhijjah: Menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Para ulama mengingatkan agar umat Islam tetap bersandar pada dalil-dalil sahih mengenai keutamaan umum puasa Dzulhijjah dan tidak berlebihan dalam memercayai riwayat yang lemah.

Dalam kitab Lathaif Al-MaÔÇÖarif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, disebutkan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan musim ketaatan yang dicintai Allah SWT, di mana orang-orang saleh terdahulu sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu juga menegaskan puasa awal Dzulhijjah sebagai sunnah muakkadah yang fleksibel bagi mereka yang memiliki keterbatasan.

Lafaz Niat Puasa Dzulhijjah

Berikut adalah lafaz niat untuk puasa sunnah Dzulhijjah:

Niat Puasa 1-7 Dzulhijjah:

┘å┘Ä┘ê┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘Å ÏÁ┘Ä┘ê┘Æ┘à┘Ä Ï┤┘Ä┘ç┘ÆÏ▒┘É Ï░┘Å┘êϺ┘ä┘ÆÏ¡┘Éϼ┘æ┘ÄÏ®┘É Ï│┘Å┘å┘æ┘ÄÏ®┘ï ┘ä┘É┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É Ï¬┘ÄÏ╣┘ÄϺ┘ä┘Ä┘ë

Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillaahi taÔÇÖaalaa.

Artinya: ÔÇ£Saya berniat puasa sunnah Dzulhijjah karena Allah TaÔÇÖala.ÔÇØ

Niat Puasa 8 Dzulhijjah (Tarwiyah):

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi taÔÇÖaalaa.

Artinya: ÔÇ£Saya berniat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah TaÔÇÖala.ÔÇØ

Niat Puasa 9 Dzulhijjah (Arafah):

Nawaitu shauma ÔÇÿarafata sunnatan lillaahi taÔÇÖaalaa.

Artinya: ÔÇ£Saya berniat puasa sunnah Arafah karena Allah TaÔÇÖala.ÔÇØ

Berdasarkan kalender Islam 1447 Hijriah, rangkaian puasa ini dapat dilaksanakan dari tanggal 1 Dzulhijjah yang bertepatan dengan 18 Mei 2026 hingga 9 Dzulhijjah (Arafah) pada 26 Mei 2026. Kesungguhan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT menjadi poin paling utama dalam memanfaatkan hari-hari terbaik ini.

Artikel terkait

Rekomendasi