Fluktuasi Hormon Estrogen Picu Perubahan Suasana Hati Saat Menstruasi

Fluktuasi Hormon Estrogen Picu Perubahan Suasana Hati Saat Menstruasi
Foto: Ilustrasi Fluktuasi Hormon Estrogen Picu Perubahan Suasana Hati Saat Menstruasi.

Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ memaparkan bahwa fluktuasi hormon estrogen dan progesteron menjadi pemicu utama perubahan suasana hati atau mood swing pada perempuan saat masa menstruasi. Penjelasan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta Pusat pada Selasa (21/4/2026), sebagaimana dilansir dari Lifestyle.

Kondisi biologis tersebut sering kali berdampak pada aspek psikologis, seperti munculnya sifat mudah tersinggung, sensitivitas berlebih, hingga hambatan dalam berkonsentrasi. Dr. Elvine menekankan bahwa pergeseran kadar hormon secara langsung memengaruhi keseimbangan emosional individu.

"Perubahan hormonal estrogen dan progesteron sangat berpengaruh terhadap mood saat menstruasi," jelas dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiater.

Penurunan kadar estrogen berkaitan erat dengan produksi serotonin dan dopamin di dalam otak. Kedua zat kimia tersebut merupakan elemen kunci yang mengelola perasaan bahagia serta motivasi seseorang dalam beraktivitas sehari-hari.

"Kalau bicara tentang estrogen itu pengaruhnya besar banget terhadap mood yang jadi berantakan, ini kaitannya dengan serotonin di otak dan dopamin," ujar dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiater.

Selain masalah emosi, fase awal menstruasi juga kerap menurunkan kemampuan kognitif dan fokus. Penelitian menunjukkan bahwa pada periode ini, perempuan cenderung menjadi lebih peka dalam menangkap dan merespons ekspresi wajah orang lain di lingkungan sosial mereka.

"Di awal-awal menstruasi, perempuan kadang agak lola kalau mikir, bahkan ada penelitian yang menyatakan kalau seseorang akan lebih sensitif terhadap ekspresi muka orang lain saat sedang menstruasi," kata dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiater.

Dokter Elvine turut menyoroti dampak buruk stigma sosial yang masih melekat terhadap siklus bulanan perempuan. Label negatif dari masyarakat sering kali memperparah tekanan batin yang dirasakan perempuan saat sedang mengalami perubahan suasana hati.

"Akhirnya stigma menstruasi ini yang bikin jadi masalah, kadang suka dibilang ÔÇÿJangan deket-deket dia lagi dapetÔÇÖ," ungkap dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiater.

Meskipun fase ini terasa berat, tubuh perempuan akan mengalami pemulihan atau regenerasi setelah masa menstruasi berakhir. Peningkatan kembali kadar estrogen memicu kenaikan serotonin dan dopamin yang mendukung fleksibilitas fungsi otak.

"Saat sudah selesai masa menstruasinya, sebenarnya itu berkah buat perempuan. Sebab, ketika estrogennya sudah mulai naik lagi, serotonin juga ikut naik beserta dopamin," jelas dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiater.

Proses pemulihan ini dianggap serupa dengan mekanisme neuroplastisitas di mana otak melakukan pembaruan secara alami. Regenerasi tersebut menjadi titik balik positif bagi kondisi mental dan fisik perempuan setelah melewati siklus hormonal.

"Hal ini seperti tahapan neuroplastisitas otak juga. Maka, sekarang harus bangga saat menstruasi karena akhirnya otak perempuan bisa regenerasi ketika ekstrogen naik lagi," tutup dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiater.

Artikel terkait

Rekomendasi