Timnas Jepang tengah mematangkan persiapan matang guna menghadapi kompetisi bergengsi Piala Dunia 2026.
Optimisme skuad Samurai Biru saat ini tidak lepas dari warisan besar Hidetoshi Nakata, sosok legendaris yang mengawali kariernya karena terinspirasi manga Captain Tsubasa.
Sebagaimana dilansir dari Suara, Nakata dikenal luas sebagai pelopor pemain Jepang yang mampu menembus ketatnya persaingan di kasta tertinggi Liga Italia atau Serie A.
Lahir dan tumbuh besar di Kofu pada era 1980-an, Nakata berkembang di tengah lingkungan yang lebih menggemari olahraga bisbol ketimbang sepak bola.
Keterbatasan figur idola sepak bola lokal justru membentuk karakter bermainnya menjadi lebih disiplin dan penuh imajinasi secara mandiri.
Namanya mulai mencuri perhatian dunia setelah dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Asia 1997, yang kemudian membawanya direkrut oleh klub Perugia pada 1998.
Meski sempat diragukan oleh publik Italia, Nakata berhasil membuktikan kemampuannya dengan mencetak dua gol ke gawang Juventus pada pertandingan debutnya.
Puncak kariernya di level klub terjadi saat berseragam AS Roma, di mana ia berperan mengantar tim ibu kota meraih gelar Scudetto pada musim 2000-2001.
Jejak Historis Bersama Samurai Biru
Nakata memiliki peran krusial dalam sejarah Timnas Jepang, terutama saat membawa negaranya lolos untuk pertama kali ke putaran final Piala Dunia 1998 di Prancis.
Dalam laga kualifikasi melawan Iran, ia menyumbangkan tiga assist penting yang memastikan langkah sejarah bagi tim berjuluk Samurai Biru tersebut.
Keberhasilan ini berlanjut pada edisi Piala Dunia 2002 saat Jepang bertindak sebagai tuan rumah bersama Korea Selatan.
Di bawah tekanan tinggi publik sendiri, ketenangan Nakata sebagai motor permainan berhasil membawa Jepang melaju ke fase gugur untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Perjalanan profesionalnya berakhir pada Piala Dunia 2006 di Jerman, yang ditandai dengan momen emosional saat ia menangis di lapangan setelah laga melawan Brasil.
Kehidupan Pasca Pensiun dan Warisan Budaya
Setelah memutuskan gantung sepatu pada usia 29 tahun, Nakata memilih untuk mengeksplorasi 47 prefektur di Jepang guna mendalami kekayaan budaya lokal.
Langkah ini kemudian membawanya membangun bisnis sake sebagai upaya mendukung pengrajin tradisional dan melestarikan warisan budaya Jepang.
Hingga saat ini, jejak karier Nakata tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus pesepak bola Jepang yang berkarier di Eropa seperti Keisuke Honda hingga Takefusa Kubo.