Klub promosi Como menahan imbang juara bertahan Napoli dengan skor 0-0 dalam pertandingan pekan ke-25 Liga Italia 2025-2026 di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Sabtu (2/5/2026). Dilansir dari Bola, tuan rumah tampil dominan dengan melepaskan 16 tembakan namun gagal membuahkan gol hingga laga usai.
Hasil imbang tanpa gol ini memicu reaksi emosional dari pelatih Como, Cesc Fabregas. Meski mengapresiasi perkembangan anak asuhnya yang mampu mengimbangi tim besar, Fabregas tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena kegagalan meraih poin penuh di kandang sendiri.
"Tergantung. Dalam benak saya, mengingat siapa kami satu setengah tahun yang lalu, saya bisa mengatakan saya sangat bangga," ucap pelatih Como, Cesc Fabgregas saat menanggapi hasil akhir pertandingan melawan Napoli.
Kekecewaan Fabregas berdasar pada statistik pertandingan yang menunjukkan agresi tinggi timnya sepanjang laga. Salah satu peluang emas terjadi pada babak pertama melalui Anastasios Douvikas yang sudah menaklukkan kiper lawan, tetapi bola disapu tepat di garis gawang oleh bek Napoli, Amir Rrahmani.
"Tapi kemudian kami mencoba untuk menang hari ini, kami tidak berhasil, jadi dalam hal itu saya marah," kata Fabregas dikutip Football Italia dari DAZN Italia.
Secara taktis, Como mencoba memberikan tekanan konstan terhadap lini tengah Napoli yang diisi oleh pemain-pemain kelas dunia. Fabregas memuji keberanian para pemain tengahnya yang mampu memberikan perlawanan sengit sepanjang durasi pertandingan.
"Kami mencoba untuk sangat agresif, untuk menekan Napoli, saya melihat tim yang ingin saya lihat, mencoba untuk memenangkan pertandingan," tutur Fabregas.
Juru taktik asal Spanyol tersebut menyoroti performa individu beberapa pemainnya yang berjibaku menghadapi nama-nama besar di kubu tim tamu. Hal ini dianggapnya sebagai bukti kemajuan pesat skuat Como sejak promosi dari divisi kedua.
"Nico Paz, (Lucas) Da Cunha, (Maximo) Perrone berjuang di lini tengah melawan (Stanislav) Lobotka, (Kevin) De Bruyne dan (Scott) McTominay, jadi itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya lupakan juga," ucap pelatih asal Spanyol tersebut.
Tambahan satu poin ini membuat ambisi Como untuk menembus zona Liga Champions terhambat, karena selisih poin dengan peringkat empat berpotensi melebar menjadi lima angka. Namun, Fabregas menekankan bahwa posisi Como saat ini sudah melampaui ekspektasi awal musim.
"Saya merasakan pertumbuhan konstan para pemain saya, saya sangat menuntut mereka, dan ketika saya melihat penampilan melawan Sassuolo, Udinese, Parma, Fiorentina di mana mereka tidak memberikan apa yang saya inginkan, saya tidak melupakan itu." kata Fabregas.
Fabregas menambahkan bahwa evaluasi kepelatihan tidak hanya terpaku pada hasil papan skor, melainkan pada proses panjang yang telah dilalui tim. Ia mengapresiasi kerja keras para pemain yang terus bertransformasi menjadi lebih kompetitif di kasta tertinggi.
"Meskipun demikian, 95 persen dari waktu, mereka memberikan apa yang saya inginkan. Saya tahu di mana mereka berada beberapa tahun yang lalu dan bagaimana mereka terus meningkatkan diri, jadi sebagai pelatih, ini bukan hanya tentang menganalisis kemenangan atau kekalahan, ada berjam-jam kerja yang tak terlihat," tutur Fabregas.
Keberhasilan Como bersaing di papan atas menjadi catatan sejarah tersendiri bagi klub yang sempat lama absen dari persaingan elit sepak bola Italia. Kehadiran mereka di Serie A musim ini memberikan warna baru dalam perebutan posisi klasemen strategis.
"Dalam hal itu, kami harus senang bahwa Como bersaing untuk posisi penting setahun setelah kembali ke Serie A, setelah absen dari kasta tertinggi selama 21 tahun," kata eks pemain Arsenal, Chelsea, dan Barcelona itu.