PT JLM Auto Indonesia melaporkan adanya pergeseran signifikan pada profil konsumen Harley-Davidson di Indonesia yang kini mulai didominasi oleh generasi muda. Transformasi ini didukung oleh peluncuran model tahun 2026 yang mengedepankan performa dan tampilan agresif di Jakarta pada Senin (20/4/2026).
Sebagaimana dilansir dari Otomotif, pasar sepeda motor premium asal Amerika Serikat tersebut tidak lagi hanya menjadi konsumsi pengendara usia matang. Pihak distributor mencatat tren pembelian kini merambah ke segmen usia akhir 20-an hingga awal 30-an tahun melalui pembaruan lini produk.
Operations Director PT JLM Auto Indonesia, Irvino Edwardly menjelaskan bahwa citra merek ini sedang menjauh dari stigma motor klasik untuk orang tua. Perubahan tersebut terlihat dari spesifikasi unit yang masuk ke pasar domestik saat ini.
"Pergerakan Harley itu memang lebih younger sekarang. Jadi memang mulai menjauh dari konteks bahwa Harley itu is an old motorcycle for old people," ujar Irvino Edwardly, Operations Director PT JLM Auto Indonesia.
Inovasi pada sisi visual dan teknis menjadi kunci penarik minat pelanggan baru. Berbeda dengan model lawas, varian terbaru kini lebih menonjolkan aspek kecepatan dan tampilan modern.
"Kalau dilihat dari varian-varian line-up, banyak Harley yang lebih sporty, lebih modern, lebih agresif looking, dan juga lebih diutamakan ke arah performance," kata Irvino Edwardly, Operations Director PT JLM Auto Indonesia.
Evolusi desain ini diakui Irvino sebagai langkah mengejar ketertinggalan teknologi dari masa lalu. Harley-Davidson kini telah mengadopsi standar performa yang lebih kompetitif untuk bersaing di industri otomotif modern.
"Dulu mungkin Harley bentuknya old school banget, bapak-bapak banget, performance-nya juga ketinggalan banget. Sekarang Harley sudah sangat-sangat catch up dengan itu semua," ucap Irvino Edwardly, Operations Director PT JLM Auto Indonesia.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah penggantian aksen krom yang ikonik dengan sentuhan warna gelap. Tren penggunaan trim hitam ini dianggap lebih mewakili karakter konsumen muda yang ingin tampil berani dan dinamis.
"Kalau kita lihat modelnya, sekarang mayoritas bukan chrome. Mayoritas sekarang black trim. Kenapa black trim? Lebih gahar ya, nada-nada chrome yang mungkin identik dengan orang tuanya itu hilang. Jadi lebih ke arah younger yang lebih bold, lebih dinamis, lebih agresif," ujar Irvino Edwardly, Operations Director PT JLM Auto Indonesia.
Meski mengedepankan gaya modern, perusahaan tetap menyediakan pilihan bagi pencinta gaya tradisional. Varian dengan aksen krom masih dipertahankan untuk model-model legendaris tertentu guna mengakomodasi basis penggemar lama.
"Jadi, kita ada trimnya itu memang banyak daripada varian ini sebenarnya terdiri dari dua trim, chrome trim dan black trim. Cuma memang melihat pergerakan demand kita, mayoritas yang kita masukkan adalah black trim," kata Irvino Edwardly, Operations Director PT JLM Auto Indonesia.
Strategi pengadaan barang ini dilakukan untuk merespons permintaan pasar yang terus berkembang ke arah gaya hidup kontemporer. Kendati demikian, beberapa model khusus tetap mempertahankan spesifikasi aslinya sesuai karakter dasar motor tersebut.
"Kecuali untuk model-model tertentu seperti Fat Boy dan Heritage itu semuanya masih chrome trim," ucap Irvino Edwardly, Operations Director PT JLM Auto Indonesia.