Kenaikan Harga Solar Non-Subsidi Picu Rencana Peralihan ke Mobil Listrik

Kenaikan Harga Solar Non-Subsidi Picu Rencana Peralihan ke Mobil Listrik
Foto: Ilustrasi Kenaikan Harga Solar Non-Subsidi Picu Rencana Peralihan ke Mobil Listrik.

Sejumlah pemilik kendaraan diesel mulai mempertimbangkan peralihan ke mobil listrik (electric vehicle/EV) menyusul lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamina Dex dan Dexlite pada Minggu (19/4/2026). Kenaikan biaya operasional ini memicu reaksi beragam dari konsumen di wilayah Jakarta hingga Pekanbaru.

Dilansir dari Otomotif, para pengguna kendaraan diesel kini mulai menghitung ulang pengeluaran rutin mereka. Sebagian konsumen memilih untuk menunda penggunaan mobil pribadi, sementara lainnya sudah menyiapkan kendaraan listrik sebagai solusi mobilitas harian.

Zara, seorang pemilik Toyota Fortuner VRZ tahun 2016 di Jakarta, menyatakan bahwa dirinya sempat memikirkan opsi untuk membeli unit mobil listrik baru. Namun, ia masih memantau situasi pasar sebelum mengambil keputusan final.

"Sempat berpikir mau beli mobil listrik BYD Atto 1 atau Geely, tapi mikir lagi, ini benar-benar butuh atau tidak. Dan belum tau juga perkembangan harga BBM untuk mobil diesel seperti apa, jadi wait and see dulu. Untuk sekarang lebih ke menerima, karena kan kalau mau beli mobil lagi harganya tidak murah," ujar Zara, pengguna Toyota Fortuner.

Respons serupa datang dari Indra, pemilik Mitsubishi Pajero Dakar di Pekanbaru, Riau, yang merasakan dampak langsung dari perubahan harga solar non-subsidi. Ia mencatat adanya selisih harga yang sangat signifikan dibandingkan pengisian sebelumnya.

"Kalau untuk EV saat ini belum ada kepikiran ke arah sana, saya masih mantau dulu. Terakhir saya isi Pertamina Dex masih di harga normal Rp 14.950, dan sekarang sudah jadi Rp 24.950. Cukup buat isi dompet kaget. Jadi saya lebih milih kandangin Pajero di garasi dulu sampai waktu yang belum bisa ditentukan," kata Indra, pemilik Mitsubishi Pajero.

Di sisi lain, Andre yang merupakan pengguna Toyota Fortuner VRZ tahun 2021 di Jakarta justru merasa lebih tenang karena sudah memiliki kendaraan listrik. Ia mengalokasikan mobil dieselnya hanya untuk penggunaan tertentu sesuai aturan pelat nomor ganjil-genap.

"Mulai agak berat ya, untungnya saya sudah prepare EV. Biasanya mobil di pakai sesuai tanggal pelat mobil (genap), akan jarang digunakan sekarang. Lebih ke full EV sehari-hari. BYD M6 ini memang sengaja dibeli karena antisipasi hal seperti ini juga, selain sebagai genset berjalan apabila ada apa-apa, karena semua sudah dengan teknologi dan butuh listrik jadi ketika ada kondisi darurat," ujar Andre, pengguna Toyota Fortuner.

Fenomena ini menggambarkan bahwa meski terjadi lonjakan biaya energi, hambatan seperti harga kendaraan dan kesiapan infrastruktur masih menjadi pertimbangan utama masyarakat. Konsumen cenderung bersikap waspada terhadap fluktuasi harga BBM sebelum beralih sepenuhnya ke teknologi listrik.

Artikel terkait

Rekomendasi