Harga Nikel Shanghai Anjlok Imbas Rencana Pengendalian Ekspor Indonesia

Harga Nikel Shanghai Anjlok Imbas Rencana Pengendalian Ekspor Indonesia
Foto: Ilustrasi Harga Nikel Shanghai Anjlok Imbas Rencana Pengendalian Ekspor Indonesia.

Harga nikel di Shanghai Futures Exchange atau SHFE ditutup melemah sebesar 1,23 persen ke level 142.770 yuan atau sekitar US$ 20.986 per ton, dilansir dari Internasional.

Penurunan harga komoditas ini dipicu oleh pengumuman Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (20/5) mengenai rencana pemerintah Indonesia untuk menempatkan ekspor sejumlah komoditas strategis di bawah kendali negara.

Pejabat Kementerian Perdagangan dan Chief Executive Officer Danantara kemudian memberikan penjelasan lebih rinci terkait kebijakan tersebut pada hari Kamis.

Berdasarkan kebijakan baru itu, unit usaha dari Danantara bakal bertindak sebagai eksportir tunggal untuk komoditas minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy mulai 1 September 2026.

Produk ferronikel yang kode HS-nya mencakup nickel pig iron atau NPI juga akan ditempatkan di bawah pengawasan badan ekspor negara tersebut karena merupakan bahan baku utama stainless steel.

Penurunan harga di bursa juga dipengaruhi oleh peningkatan stok nikel di SHFE yang kini mencapai tingkat tertinggi sejak Mei 2017, bersamaan dengan kenaikan persediaan di gudang LME hingga Selasa lalu.

Sejumlah pelaku pasar saat ini masih meragukan efektivitas skema eksportir tunggal tersebut, terutama mengenai kemampuan satu perusahaan untuk menangani ekspor ke banyak pembeli hilir di seluruh dunia.

Faktor luar lain seperti penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak ikut menekan sentimen logam industri setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaan Washington menunggu kesepakatan damai yang tepat dengan Iran.

Sentimen negatif tersebut pada akhirnya menyeret harga logam industri lainnya seperti tembaga acuan di London yang turun 1,21 persen menjadi US$ 13.490 per ton, meskipun kontrak tembaga paling aktif di SHFE ditutup naik 0,38 persen ke level 103.940 yuan per ton.

Penutupan pasar LME lainnya mencatat penurunan harga aluminium sebesar 0,28 persen, seng melemah 0,75 persen, dan timah turun 1,93 persen, sementara timbal mengalami kenaikan tipis 0,08 persen.

Pergerakan harga di SHFE menunjukkan tren bervariasi dengan penurunan aluminium sebesar 0,49 persen, sedangkan seng naik 0,98 persen, timbal bertambah 1,07 persen, dan timah menguat 1,81 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi