Harga jual kembali kendaraan listrik di Indonesia mengalami penurunan signifikan yang disebabkan oleh tingginya biaya penggantian baterai serta kebijakan pemasaran yang kurang berpihak pada unit bekas. Berdasarkan pantauan pada Senin (27/4/2026), keterbatasan infrastruktur pengisian daya di sektor rumah tangga turut menjadi hambatan utama serapan pasar bekas.
Penurunan nilai jual ini dipicu oleh usia pakai baterai yang memerlukan penggantian di masa mendatang dengan biaya yang tidak sedikit. Dilansir dari Otomotif, populasi unit yang masih minim di pasar mobil bekas membuat harga jualnya cenderung jatuh dibanding mobil bermesin pembakaran internal.
Taufik Trisna, penjual mobil bekas di Bengkel Cak Tris, menjelaskan bahwa sebagai pedagang dirinya harus mempertimbangkan minat masyarakat terhadap unit yang mudah terjual. Ia menilai mobil listrik masih menjadi barang baru yang sulit diterima dalam kondisi bekas oleh konsumen daerah.
"Sebagai penjual juga memperhatikan minat masyarakat, kami lebih memilih menyediakan unit bekas yang mudah laku ketika dijual, sementara mobil listrik kan masih baru, belum tentu mudah diterima dalam kondisi bekas," ucap Taufik Trisna, penjual mobil bekas.
Faktor daya listrik rumah tangga juga menjadi kendala bagi konsumen menengah ke bawah yang merupakan pasar utama mobil bekas. Taufik mencontohkan kebutuhan daya minimal untuk pengisian daya unit kecil tetap melampaui kapasitas listrik rumah tangga pada umumnya.
"Sebagai contoh mobil listrik yang paling kecil saja, Wuling Air EV, itu butuh daya pengisian 2.200 VA, sementara listrik rumah tangga di kalangan menengah ke bawah umumnya sekitar 900 - 1.300 VA," ucap Taufik Trisna, penjual mobil bekas.
Kekhawatiran biaya perbaikan komponen utama menjadi alasan lain jatuhnya harga di pasaran. Taufik menyoroti harga komponen baterai yang sangat mahal karena faktor kelangkaan dan kapasitasnya yang besar.
"Harga baterainya kan bisa sampai setengah dari harga unit mobil barunya, karena memang kapasitas baterai mobil listrik cenderung besar dan masih langka," ucap Taufik Trisna, penjual mobil bekas.
Hardi Wibowo, pemilik bengkel dan showroom Aha Motor Yogyakarta, menyatakan bahwa aspek fungsionalitas dan risiko jual kembali lebih diutamakan oleh pembeli mobil bekas dibandingkan isu teknologi. Menurutnya, konsumen cenderung memilih unit yang sehat dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
"Tak semua orang melek teknologi, dan isu polusi udara, saat beli mobil bekas kadang yang diperhatikan bujetnya sampai, mobil sehat, bisa dipakai, dan tak berisiko saat dijual kembali," ucap Hardi Wibowo, pemilik bengkel.
Hardi menambahkan bahwa mobil listrik saat ini mayoritas masih berusia muda sehingga ketahanannya untuk pemakaian jangka panjang di atas sepuluh tahun belum teruji secara nyata di lapangan.
"Tapi kalau mobil listrik kan belum teruji, kebanyakan usia unitnya masih muda, nanti setelah dipakai 10 tahunan lebih seperti apa, dan biaya perbaikannya berapa, ini kan belum ketahuan," ucap Hardi Wibowo, pemilik bengkel.
Seorang pedagang mobil bekas di Tangerang mengungkapkan adanya risiko hilangnya garansi baterai saat kendaraan berpindah tangan ke pemilik kedua. Hal tersebut, ditambah dengan kebijakan lembaga pembiayaan, memperburuk posisi tawar mobil listrik bekas.
"Kami juga tak berani menyediakan unit mobil listrik bekas, buat saat ini banyak faktor, salah satunya, garansi baterainya bakal hilang bila jatuh ke pihak ke-dua, pasti harga jualnya turun suka nggak kira-kira, cepat jatuhnya," ucap penjual mobil bekas di Tangerang.
Kondisi ini diperparah dengan enggannya pihak leasing memberikan pembiayaan untuk kredit mobil listrik dalam kondisi bekas. Kebijakan ini dinilai sebagai hambatan strategis yang berdampak langsung pada rendahnya harga jual di pasaran.
"Itu kesalahan marketing saya kira, ditambah tak semua leasing mau membiayai kredit mobil listrik bekas, itu semakin memperparah harga jual kembalinya," ucap penjual mobil bekas di Tangerang.
| Model Mobil | Tahun | Harga Estimasi |
|---|---|---|
| Hyundai Kona EV | 2020 | Rp 199 juta (kredit) |
| Hyundai Ioniq 5 Standard Range | 2022 | Rp 330 juta (kredit) |
| Wuling Air EV Standard Range | 2022 | Rp 95 juta (kredit) |
| Wuling Air EV Long Range | 2022 | Rp 119 juta (kredit) |
| Porsche Taycan | 2021 | Rp 2.799 juta |
| Nissan Leaf | 2021 | Rp 252 juta |
| Lexus UX 300e | 2021 | Rp 490 juta |