Harga minyak mentah di pasar Asia bergerak stabil pada Selasa 11 Mei setelah sempat melonjak hampir 3 persen akibat memudarnya harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini dipicu oleh penolakan keras Presiden Donald Trump terhadap proposal perdamaian yang diajukan Tehran.
Kestabilan harga terjadi di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan distribusi pasokan minyak melalui Selat Hormuz di masa depan. Berdasarkan data Investing.com yang dilansir dari Suara, harga minyak Brent naik tipis 0,3 persen menjadi 104,52 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,3 persen ke level 98,33 dolar AS per barel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan penilaian negatif terhadap upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa posisi negosiasi saat ini berada dalam kondisi yang sangat sulit setelah melihat respons dari pihak Iran.
"on life support" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sentimen pasar kian memburuk setelah Trump secara terbuka menyatakan keberatan atas dokumen tanggapan yang dikirimkan oleh pemerintah Tehran. Ia menilai draf tersebut tidak memenuhi standar yang diharapkan oleh pihak Washington dalam proses rekonsiliasi tersebut.
"sama sekali tidak dapat diterima" cetus Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Ketegangan diplomatik ini merusak ekspektasi investor yang sebelumnya optimis akan adanya terobosan baru. Trump bahkan menggunakan perumpamaan kasar untuk menggambarkan dokumen diplomatik yang dikirimkan oleh pihak lawan bicaranya tersebut.
"sampah" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di sisi lain, Pemerintah Iran tetap mempertahankan argumennya terkait daftar tuntutan yang mereka ajukan. Tehran menekankan pentingnya pemulihan ekonomi dan kedaulatan wilayah sebagai syarat mutlak penghentian konflik di kawasan Teluk.
"tuntutan mereka sangat sah" jelas pihak Iran melalui pernyataan resminya.
Tehran menuntut pencabutan blokade laut serta kompensasi atas kerusakan perang untuk memastikan kelancaran kembali ekspor minyak mereka. Isu keamanan di Selat Hormuz menjadi krusial mengingat jalur tersebut dilewati hampir seperlima pasokan bahan bakar dunia.
Kekhawatiran mengenai pemulihan arus logistik juga disuarakan oleh pelaku industri energi global. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan mengenai durasi yang dibutuhkan untuk menormalkan kembali distribusi minyak mentah dunia jika jalur perdagangan kembali dibuka.
"seandainya Selat Hormuz langsung dibuka kembali saat ini, normalisasi arus minyak mentah global tetap akan memakan waktu berbulan-bulan" tegas Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.
Pasar kini menantikan pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada akhir pekan ini. Pertemuan tersebut dijadwalkan untuk membahas ketahanan energi global serta mencari jalan keluar atas konflik yang melibatkan Iran tersebut.